Selasa, 27 September 2016
Ujian, Kecemasan, dan Self-Esteem
Diposting oleh RIZKA di 17.08 1 komentar
Label: my experience, psikologi
Jumat, 09 Oktober 2015
Kenali dan Regulasikan Emosi !
Ini adalah secuplik materi kuliah dengan dosen yang cukup “Humanistik”. Saya coba pahami melalui analogi berikut. Kita mau muntah, sedang di tempat umum. Jadi harus ke kamar mandi dulu karena muntah di tempat umum adalah hal memalukan. Begitu juga dengan mengekspresikan emosi, perlu pergi ke tempat yang kondusif dulu supaya tidak dianggap aneh-aneh oleh orang lain. Dosen saya mengatakan, kita orang Indonesia dibiasakan untuk meniadakan emosi, “Ga boleh nangis, marah, dsb”. Apak akibatnya ? Kita menjadi tidak peka dengan emosi diri sendiri, sehingga tidak bisa mendeteksinya. Yang terjadi hanyalah ada gejolak dalam diri tanpa tahu apa itu. Contohnya, ada pengalaman pahit pernah disakiti oleh bapaknya. Rasanya benci, marah, ada dendam, tapi bingung harus bagaimana karena yang menyakiti adalah orang tuanya. Dia hanya memendam perasaan itu, disimpan, ditutupi, dan berusaha dilupakan karena takut. Bapak & ibunya mungkin sering mengatakan, “Marah sama orang tua itu durhaka, itu dosa”. Khawatir juga dilabel sebagai "Anak tidak berbakti pada orang tua" oleh orang-orang lain yang tahu. Dalam pikirannya, “Aku ga boleh menampakkan marah walaupun sebenernya benci sama bapak, ya sudahlah, lupakan saja.” Namun, sebenarnya di dalam hatinya yang terdalam, dia belum memaafkan. Hanya saja itu diingkari, seakan-akan tidak merasakan apapun. Suatu saat emosi itu bisa terekspresikan, seperti meledak. Yang terjadi adalah bingung, “Kok aku seperti ini ya.. Inikah diriku ?” Ini gambaran contoh seseorang yang tidak mengenal emosi dirinya. Kenal saja tidak, apalagi meregulasinya.
Aplikasinya dalam konseling.. Aliran humanistik menekankan empati dan emosi. Klien dibiarkan untuk memuntahkan emosinya karena belum tentu orang tahu apa yang tersembunyi di dalam dirinya (masih dalam level mental, belum sampai jiwa). Mungkin benci, sedih, marah, kecewa, dsb. Terkadang orang juga merasa berat menceritakan pengalamannya, saking beratnya masalah yang dihadapi sehingga bingung mulai cerita dari mana. Ada juga orang yang bersikeras dirinya baik-baik saja, pura-pura kuat, padahal dirinya rapuh. Mau menangis, teriak keras, mengumpat, semua dibiarkan sampai klien siap untuk bercerita dengan pikiran yang lebih jernih. Harapannya, klien sadar akan emosi dirinya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya, tentu dengan bantuan psikolog. Seperti mengakui, “Oh, ternyata selama ini saya masih dendam dengan seseorang.”
Saya refleksikan lagi karena sempat berpikir, apakah pemikiran dan praktik seperti itu bisa diterima dalam perspektif Islam ? Saya kaitkan dengan materi tasawuf sejauh yang dipahami. Allah menampakkan penyakit hati tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Bagi orang yang bertaubat, ditampakkannya penyakit hati merupakan hal penting karena individu bisa menyadarinya dan berniat melakukan perbaikan diri agar penyakit tersebut hilang sedikit demi sedikit. Dalam konteks konseling dan psikoterapi, konsep humanistik mungkin bisa diterapkan bagi orang yang terlanjur larut dalam syahwat aau hawa nafsunya tapi ada potensi untuk bertaubat. Emosi klien sengaja dimuntahkan, biarkan dia mengekspresikan sesuka hati. Setelah emosi mereda dan klien bisa diajak berpikir, psikolog membantunya melakukan refleksi atas ekspresi emosi yang barusan ditampilkan. Caranya bisa dengan melabel emosi tersebut dan mengidentifikasi jenis penyakit hati apa yang sedang dideritanya. Harapannya adalah klien akhirnya mengenal emosi yang sedang dialami sekaligus penyakit hati yang mengendap sekian lama. Pilihan tetap ada pada klien: apakah ingin sembuh dari penyakit itu atau tetap menyimpannya. Jika ingin sembuh, proses konseling bisa menjadi titik awal untuk taubat.
Orang yang sehat jiwanya adalah yang dapat mengenali dan meregulasi emosinya, bukan mengingkari adanya emosi itu. Ketika sedang marah di tempat umum, dia sadar bahwa dirinya sedang marah. Kesadaran bahwa marah itu menguras energi dan berdampak buruk bagi dirinya, mendorongnya berusaha untuk meregulasinya, yaitu dengan tidak mengekspresikannya. Salah satu caranya bisa dengan istighfar. Terkesan simpel ya, ketika diuraikan secara rasional.. Namun, pada kenyataannya akan sangat sangat sulit untuk dipraktikkan, terutama bagi orang yang tidak menyadari emosinya.
Jika memang emosi baik positif atau negatif harus diingkari, untuk apa Allah menciptakan emosi senang, geli, kecewa, sedih, takut, marah, dan sebagainya ? Apa jadinya hidup tanpa emosi ? Emosi itu diregulasi, bukan diingkari.
Selamat mencoba ! :)
Diposting oleh RIZKA di 21.59 0 komentar
Label: my experience, psikologi, tashowwuf
Sabtu, 14 Maret 2015
Kembali ke rumah, kembali menulis
Baru nongol lagi nih setelah sekian lama ga nge-blog.
Alhamdulillah, aku kembali ke rumahku di Jogja setelah 4,5 tahun merantau di kota orang. Memang rumah Jogja ini bukan tempat kembaliku yang sebenarnya. Kita semua akan kembali pada Allah kan, badan aja bakal hancur dimakan mikroba di tanah, bener ga ?
Terus, apa yang akan aku lakukan setelah selesai masa studi di tanah rantauan ?
Setelah beberapa kali mempertimbangkan & mohon petunjuk Allah, aku tetapkan diri untuk tinggal di Jogja dalam jangka waktu yang lama, bukan seperti liburan yang hanya beberapa minggu saja. Berharap bisa lanjut kuliah di sini dan ya.. Entah ke mana lagi setelah itu. *Parah, padahal semestinya dah mulai punya proyeksi karena itu ditanyakan saat seleksi ujian masuk.
Balik lagi ke rumah Jogja, bakal ada banyak sekali hal yang membuat mata melebar, dada sesak, alis terangkat, terlinga panas, dan sebagainya. Gimana ga ? Aku hidup bersama orang-orang dari 3 generasi: eyang, bapak ibu, adek-adek. Eyang dengan karakteristik orang dari cohort 1930-an, bapak ibu sebagai orang dewasa madya, dan adek-adek yang masyaAllah bervariasi (late childhood, early adolescence, middle adolescence). Mereka punya keunikan masing-masing, value yang berbeda pula. Konflik sangat mungkin terjadi. Sebuah setting yang menurutku baru, bagi anak yang sudah biasa jauh dari rumah.
Tempat belajar hidup nih.. Belajar dalam arti luas, termasuk tetap lanjut mempelajari hal-hal yang didapatkan selama di Depok. Walaupun aku punya tampang pengangguran gini, rasanya seperti kuliah. Masih ada proyek nulis, bantu penelitian dosen, lanjut baca-baca buku psikologi Islam, dsb. Yang bikin seru adalah, gimana caranya bisa jalanin hidup sebagai manusia dengan multi peran: mbak, anak, cucu, pelajar. Pas belajar, ujug-ujug dipanggil. Lagi ngerjain tugas diminta ke dapur. Lagi nulis diajak ngobrol. Harus bisa menyesuaikan diri.
Tempat belajar lebih dari sekedar memperbaiki skill mengelola peran, tapi juga meningkatkan kematangan jiwa. Ga boleh egois, menahan nafsu yang cenderung pada hal-hal duniawi, menahan emosi negatif yang akan terekspresikan, ga boleh gampang mengeluh, dan sebagainya. Memang di sini bukan tempat yang bagus untuk pematangan jiwa, tapi ini adalah ujian.
Entah sampai kapan bisa belajar hidup di sini, yang jelas aku coba ikuti saja skenario yang dibuat oleh Pembuat Skenario Terbaik sepanjang masa.
Diposting oleh RIZKA di 22.59 0 komentar
Label: my experience
Kamis, 18 September 2014
Pelajaran di balik sakit
Diposting oleh RIZKA di 20.42 0 komentar
Label: Islam, my experience, psikologi, tashowwuf, tips
Jumat, 05 September 2014
Hikmah dalam Hantaman, Pelajaran dalam Intimidasi
Diposting oleh RIZKA di 20.01 0 komentar
Label: Islam, my experience, psikologi, tips
Sabtu, 28 Juni 2014
Fokus Riz.. Fokus !
Diposting oleh RIZKA di 22.36 0 komentar
Label: Islam, my experience
Minggu, 18 Mei 2014
Fenomena The loss of Adab: Ibu-Ibu dan Ibu Hamil
Diposting oleh RIZKA di 20.13 0 komentar
Label: Islam, my experience
Minggu, 30 September 2012
Bingung
Aku hanya bingung, ketika melihat banyak pemuda pemudi saling memadu kasih secara terang-terangan dan berlebihan. Padahal ga ada yang menjamin mereka saling mencintai selamanya. Kalau dah putus, ada yang nangis, mau balik lagi, atau cari yang lain. Emang ga bisa sabar buat mencintai dalam diam untuk sementara?
Aku bingung ketika ada wanita yang dengan senang hati mengumbar auratnya, sementara banyak kasus pelecehan yang rawan bagi semua wanita.
Bingung mendengar orang berkata kotor, padahal berkata kotor itu ga menyelesaikan masalah, bahkan bisa membawa masalah. Emang kalau dah misuh, bakal puas ? Serius, kasian anak-anak dari para misuhers. Mereka bakal mencetak generasi pengumpat !
Bingung saja, ketika ada orang yang berprasangka terhadap sesuatu, tapi ternyata prasangka itu jauh dari kenyataan. Sangat-sangat jauh. Disuruh klarifikasi, males. Asumsi terus tanpa data berupa fakta yang memadai.
Bingung, ketika melihat ada orang menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang sebenernya ga perlu. Kalau bosen sama benda itu, cari lagi yang lain. Kalau ada yang baru, terobsesi untuk beli.
Bingung kali... Melihat status-status ga bermutu yang berisi kegalauan ga bermakna atau ambigu. Kalau dah pasang status galau, trus mau apa ? cari jumlah like sebanyak-banyaknya ?
Bingung, ada orang yang mempermainkan agama. Pindah agama cuma gara-gara cinta. Kalau cintanya ganti, agamanya juga ganti. Trus, agama bagi orang seperti itu berfungsi buat apa ?
Lagi-lagi bingung... Banyak orang merokok di tempat umum. Dah ganggu orang di sekitar, termasuk aku yang asmatik, ganggu diri sendiri juga. Padahal resiko penyakit dari merokok tuh ga kecil.
Bingung ketika ada mahasiswa/i yang seneng banget titip absen & bolos. Padahal uang masuk kuliah tuh mahal cuy dan banyak yang ga bisa kuliah gara-gara biaya mahal. Kalau titip absen, bisa ikut ujian. Emang bisa ya ? ga ikut belajar di kelas, bakal bisa jawab soal-soal ujian ? Atau nyontek ? Kalau nyontek, bisa lulus. He ? Ada ya, universitas yang mau meluluskan orang seperti itu ? mboh lah...
Masih ada bingung-bingung yang lain, tapi ga mungkin aku tulis satu per satu di sini.
Aku makin bingung ketika ada yang bilang, "kenapa yang begituan harus dibingungkan"
Lebih bingung lagi kalau diri kita melakukan apa yang kita bingungkan.
Aku memang seorang pembingung sekaligus pemikir. Ga berharap bingung itu hilang. Jangan sampai bingung itu hilang.
Tetaplah bersyukur, bagi kalian yang masih bisa bingung dan berusaha memecahkan kebingunan itu.
Bersyukur lagi ketika ada orang yang berbaik hati menjawab kebingungan-kebingunganku, sehingga aku paham.
Diposting oleh RIZKA di 01.00 0 komentar
Label: my experience, social
Kamis, 28 Juni 2012
BangJo !
Diposting oleh RIZKA di 23.39 1 komentar
Label: my experience
Selasa, 10 April 2012
Rela diserang Bertubi-tubi: Terjebak di dunia lain
Ini memang pengalaman pribadi, tapi semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membaca.
Gila... bener-bener buat stres. Gimana ga stres ? Terjebak di dunia lain yang ga diharapkan. ..
Itulah situasiku saat ini. Aku mahasiswi Psikologi, ga minat sama politik, hukum, hal-hal dadakan, perdebatan, suasana rapat yang panas. Justru komponen-komponen pemicu stres itu seakan-akan menyerangku secara bertubi-tubi. *majas hiperbola. Wajar sekarang nih, aku gampang cemas. Dikit-dikit tanya, bilang ada masalah, ngeluh, dan hal-hal merepotkan lainnya bagi atasanku.
Mau gimana lagi ? Aku sudah terlanjur mengucapkan janji setia selama setahun untuk bekerja sebagai Deputi di Departemen yang penuh dengan hal-hal dadakan & membuatku cemas. Aku sementara ini berpikir, “Sudahlah, ini hanya satu tahun kepengurusan, ga nyampe setahun lagi aku bisa melepaskan status sebagai diplomat abal-abalan. Aku tau, ini bukan duniaku. Aku tau, aku terjebak di sini. Tenang aja, ga lama lagi, aku bisa lepas dari ini.” Yang penting, tetap pegang amanah selama dipasang label deputi, atau bahkan yang lebih parah: seorang diplomat.
Diplomat ? Yap... Itu profesi keren bagi beberapa orang dalam departemenku ini. Profesi dambaan bagi mereka, tapi ga bagiku. Ga sama sekali. Aku ga bercita-cita jadi dilpomat. Ga kebayang gimana anakku nanti kalau ibunya lebih sibuk mengurusi negara ketimbang anaknya sendiri. Perkembangan anak bisa bermasalah karena ga deket sama ibunya. Ga percaya sama ibu, terlambat bicara, perkembangan aspek sosial-emosional terhambat, hal-hal fatal lainnya yang berakar dari hal sepele (ibu lebih mementingkan karir daripada anak sendiri), bisa terjadi. Aku dengan tegas menyatakan: GA MAU ITU TERJADI. Aku lebih rela kalo anakku besarnya nanti jadi diplomat kalau itu emang minat dia. Itu jauh lebih keren daripada aku sebagai seorang ibu (nantinya, aamiin) jadi diplomat sukses tapi keluarga hancur. Hmm. Itu beda kalo jodoku nanti seorang diplomat, itu ga masalah karena dia emang tugasnya cari nafkah kan..
Itu barusan adalah paparan alasan kenapa aku ga mau jadi diplomat. Memang sudah jelas bahwa aku memang ga minat sama kerjaanku di departemen ini. Lagi-lagi, kabar dadakan, rapat dadakan, apa-apa dadakan. Serba dadakan... menyebalkan. Mencemaskan.
Cemas adalah sesuatu yang ga mengenakkan. Tapi, bukan berarti yang ga mengenakkan harus dihindarkan kan ? Yup... Aku ga mau menghindari sumber-sumber kecemasan ! Ga masalah ada serangan bertubi-tubi dari atasan: tugas dadakan, disuruh ngomong pake bahasa asing dengan tamu, buat proposal malem ini jadi, segera menghubungi pembicara, segera rapat saat ini juga. Selama aku mampu, aku akan melawan kecemasan itu. Ga masalah kok kalau orang-orang sekitarku secara sadar atau ga sadar buat aku cemas. Kalau aku menghindari kecemasan, kapan aku mau maju ?
Itulah sikapku. Kecemasan emang ga bisa dihilangkan dengan instan, bisanya orang mengatasi kecemasan itu dengan strateginya. Mungkin, di awal-awal ini strategiku adalah merepotkan orang lain sebagai tempat “curhat” tentang masalah-masalah terkait. Ketika orang yang diajak ngomong itu menenangkan, aku akan lebih tenang. Itu di awal, mungkin strategiku untuk mengatasi kecemasan di akhir kepengurusan akan beda, jauh lebih baik. Semakin sering aku berinteraksi dengan kecemasan, semakin pandai aku dalam mengatasinya. Semoga, aamiin.
Terlepas dari kecemasanku dalam bekerja, aku yakin, posisiku sekarang sebagai deputi punya dampak positif buatku atau mungkin buat orang lain untuk ke depannya. Bisa saja, kemampuan negosiasi bakal berguna ketika aku harus menasihati anak yang bandel. Keren kan... ada ibu yang “mantan diplomat” bisa pake ilmunya buat mendidik anak ^ ^
Diposting oleh RIZKA di 23.40 0 komentar
Label: my experience