Tampilkan postingan dengan label my experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my experience. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Ujian, Kecemasan, dan Self-Esteem


Apa yang kamu lakukan ketika melihat teman yang galau berat karena ucapan orang lain ? atau terlalu cemas ketika ujian ? Mungkin reaksimu adalah tertawa atau terbesit dalam pikiran “Cuma karena ucapan orang lain aja, langsung down gitu. Lemah banget !”
Silakan saja berpikir seperti itu, tapi setelah membaca ceritaku ini, aku berharap skala empatimu terhadap orang pencemas bisa bertambah walaupun pertambahan itu hanya 1 angka.
--
Kemarin adalah jadwal aku ujian kasus. Aku sudah mempersiapkannya dengan usaha yang keras, pontang panting, beberapa hari sebelumnya sudah kubuatkan ppt. Aku sudah optimis dan tenang di hari itu, bahkan paginya aku masih bisa jalan sehat 20 menitan. “Aku sudah berusaha keras, aku akan melakukan yang terbaik, tenang saja..” Aku sudah camkan itu.
Bersyukur pula, bapakku bilang “Jangan jadikan ujian sebagai beban. Bapak ga kecewa, apapun hasilnya.” Semakin menenangkan aku.. (Makasih ya Bapak.. :)

Overall, kondisiku masih baik-baik saja, bahkan sampai aku duduk dan mendengarkan temanku presentasi. Aku dapat giliran terakhir.

Perubahan terjadi saat memasuki sesi tanya jawab. Aku melihat temanku, dia tampak biasa saja. Aku yang tidak biasa. Jantung berdebar lebih keras, detaknya kurasakan di kepala, hingga aku pusing. Badanku sudah bergerak-gerak tanpa alasan yang jelas. Oke, ini tanda-tanda kecemasan, tapi aku tidak tau apa yang aku cemaskan saat itu. Aku semakin paham bagaimana kondisi pasien yang mengeluhkan sakit fisik tapi ketika ditanya sedang memikirkan apa jawabannya adalah “Tidak tahu”. Balik lagi ke diriku.. Aku sudah berusaha lakukan relaksasi nafas, but it doesn’t work, bahkan ketika temanku di seberang melihat perilakuku dan memintaku untuk tenang (thanks to mbak Dev). 

Gejala kecemasanku sudah semakin reda di waktu istirahat dan aku bisa shalat. Mendekati giliranku, aku masih mantap untuk persiapkan perangkat presentasi. Laptop, file, pointer, dan yakin.. Baiklah, aku mulai presentasi. Aku tau, aku grogi tapi untungnya aku tidak sampai speechless, Alhamdulillah. Yup.. bisa ngomong di depan orang untuk mempresentasikan hasil karya adalah sebuah perjuangan keras sejauh ini dan aku sudah berprogres dalam hal ini. Lagi-lagi, alhamdulillah. Bodo amat bagaimana reaksi audiens.

Grogi semakin tinggi saat sesi tanya jawab. Aku bisa menjawab semua pertanyaan dosen dan psikolog. Aku masih bisa mengklarifikasi persepsi mereka yang tidak sesuai dengan maksudku. Aku juga masih bisa menerima saran mereka dengan terbuka. Poin-poin perkataan mereka aku catat. Yang aku ingat adalah, mereka semua bilang apa kekuranganku. Penyampaian mereka juga bagus, intonasi yang halus, bahkan diselingi tawa juga. Namanya juga evaluasi ya, semua ditujukan agar karyaku lebih baik. Hanya saja, aku merasa tidak nyaman. Kepalaku pusing. Clear, aku masih cemas walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuatku cemas.

Pernyataan penutup dari dosen sedikit menghibur, “Kalian pasti usaha pontang panting kan. Kita semua masih belajar. Saya aja juga masih belajar dari presentasi kalian”. Kurang lebih begitu lah. Aku semakin tahu bahwa evaluasi memang tujuannya baik, tapi entah kenapa aku masih merasa tidak nyaman.

Alhamdulillah, pusing reda setelah ujian selesai. Jantung juga sudah normal lagi. Kondisi emosiku saja yang masih jelek. Aku tidak puas dengan presentasiku barusan. Yang jelas, untuk sementara ini aku tidak akan menyentuh HPP karena aku sadar pikiranku masih lelah. Mau melakukan apa jadi malas. Aku jadi lebih pasif.

Waktunya untuk merenung... Beginilah kurang lebih dialog internal. Aku berusaha melakukan terapi pada diriku sendiri, mungkin humanistik, supaya aku sendiri tahu apa sih yang aku rasakan dan pikirkan hingga aku merasa tidak nyaman.
-: “Aku takut dievaluasi. Seakan-akan evaluasi itu intimidasi. Makanya aku sudah mulai cemas duluan ketika temanku ditanya-tanya.”
+: “Hei,, tenanglah. Evaluasi itu ada supaya kamu semakin baik. Tanda mereka sayang.. Mereka tidak ada maksud untuk menjatuhkanmu”
-: “Tapi mereka bilang apa saja kurangku. Tidak ada komentar positif. Aku ga tau apa yang sudah bagus dari diriku dan yang perlu dipertahankan. Seakan-akan usahaku selama ini sia-sia, padahal usahaku tidak main-main. Sedih rasanya. Ini yang membuatku malas.”
+: “Kamu berhak me-reward diri sendiri. You’re doin great.”
-: “Ga percaya. Sama saja rasanya masih down begini.”
+: “Ya sudah, memang butuh proses dan waktu untuk bangkit lagi. Coba minta feedback dari teman-teman.”

Aku pun japri dan meminta feedback mereka. Mereka semua memberikan feedback positif. Aku juga membaca tips-tips mengatasi perfeksionisme: fokus pada usaha, bukan output; pikirkan lagi apakah keadaan jadi lebih baik kalau performaku memang jauh lebih baik (tidak juga, pasti kritik selalu ada); hargai diri sendiri meskipun not doing well.. (Link artikel: https://www.psychologytoday.com/blog/the-mindful-self-express/201512/the-3-most-common-causes-insecurity-and-how-beat-them?utm_source=FacebookPost&utm_medium=FBPost&utm_campaign=FBPost)

Sayangnya, tetap saja aku masih down. Malas saja rasanya. Bahkan evidence dari teman dan artikelpun belum cukup. Pendekatan kognitif belum cukup ampuh saat ini. 

Benar kan, pertolongan Allah diperlukan agar aku bangkit lagi. Aku evaluasi diriku lagi: Hatiku belum lapang. Astaghfirullah.. Maafkan aku ya Allah, aku masih bergantung sama perkataan orang agar aku tetap teguh. Tolong aku, perbaiki diriku. 

Aku hanya bisa berpesan pada diriku,“benar kalau kamu cemas saat ujian itu, tapi apa yang kamu cemaskan itu tidak benar. Kalau ada yang bilang usahamu belum cukup. Itu BOHONG. Usahamu sudah begitu keras. Maafkan orang-orang lain ya, mereka mungkin terlalu lelah hingga fokus pada apa-apa yang kurang, sementara yang positif diabaikan. Setidaknya, berusahalah untuk menghargai jasadmu sendiri yang sudah pontang panting bekerja. You deserve to reward yourself.”
Oke, aku berjuang untuk bangkit kembali, jelas bukan proses yang instan. Hal yang perlu aku syukuri adalah aku bisa menyadari pikiran dan perasaanku sehingga aku bisa berusaha memodifikasinya hingga kondisiku bisa lebih baik lagi.
--
Sudah, cukup dengan cerita tentang ujian. Aku tidak menyesal dengan pengalaman cemasku yang berdampak signifikan pada kondisi fisikku. Pasti ada pelajarannya kan. Aku beharap semakin bisa berempati pada orang-orang pencemas, meskipun orang lain menyepelekan kecemasan mereka.
Pelajaran lain adalah aku perlu berusaha menghargai usaha dan progres orang lain sekecil apapun itu. Gawat kalau sering menyepelekan hal positif orang lain. Tanda tidak bersyukur. Bisa bisa berpotensi menimbulkan kerusakan pada orang yang kusepelekan: menurunkan self-esteem, menciutkan nyali, menurunkan semangat, putus asa, menuntut diri sendiri karena takut gagal, atau berperilaku menyimpang.

Boleh sih menuntut orang lain, tapi seimbangkan dengan apresiasi yaa :)

*Kutulis note ini tanpa berpikir panjang. Wajar ya kalau agak random. hehe

Jumat, 09 Oktober 2015

Kenali dan Regulasikan Emosi !

-Refleksi kuliah Observasi dan Wawancara Humanistik.

Ini adalah secuplik materi kuliah dengan dosen yang cukup “Humanistik”. Saya coba pahami melalui analogi berikut. Kita mau muntah, sedang di tempat umum. Jadi harus ke kamar mandi dulu karena muntah di tempat umum adalah hal memalukan. Begitu juga dengan mengekspresikan emosi, perlu pergi ke tempat yang kondusif dulu supaya tidak dianggap aneh-aneh oleh orang lain. Dosen saya mengatakan, kita orang Indonesia dibiasakan untuk meniadakan emosi, “Ga boleh nangis, marah, dsb”. Apak akibatnya ? Kita menjadi tidak peka dengan emosi diri sendiri, sehingga tidak bisa mendeteksinya. Yang terjadi hanyalah ada gejolak dalam diri tanpa tahu apa itu. Contohnya, ada pengalaman pahit pernah disakiti oleh bapaknya. Rasanya benci, marah, ada dendam, tapi bingung harus bagaimana karena yang menyakiti adalah orang tuanya. Dia hanya memendam perasaan itu, disimpan, ditutupi, dan berusaha dilupakan karena takut. Bapak & ibunya mungkin sering mengatakan, “Marah sama orang tua itu durhaka, itu dosa”. Khawatir juga dilabel sebagai "Anak tidak berbakti pada orang tua" oleh orang-orang lain yang tahu. Dalam pikirannya, “Aku ga boleh menampakkan marah walaupun sebenernya benci sama bapak, ya sudahlah, lupakan saja.” Namun, sebenarnya di dalam hatinya yang terdalam, dia belum memaafkan. Hanya saja itu diingkari, seakan-akan tidak merasakan apapun. Suatu saat emosi itu bisa terekspresikan, seperti meledak. Yang terjadi adalah bingung, “Kok aku seperti ini ya.. Inikah diriku ?” Ini gambaran contoh seseorang yang tidak mengenal emosi dirinya. Kenal saja tidak, apalagi meregulasinya.

Aplikasinya dalam konseling.. Aliran humanistik menekankan empati dan emosi. Klien dibiarkan untuk memuntahkan emosinya karena belum tentu orang tahu apa yang tersembunyi di dalam dirinya (masih dalam level mental, belum sampai jiwa). Mungkin benci, sedih, marah, kecewa, dsb. Terkadang orang juga merasa berat menceritakan pengalamannya, saking beratnya masalah yang dihadapi sehingga bingung mulai cerita dari mana. Ada juga orang yang bersikeras dirinya baik-baik saja, pura-pura kuat, padahal dirinya rapuh. Mau menangis, teriak keras, mengumpat, semua dibiarkan sampai klien siap untuk bercerita dengan pikiran yang lebih jernih. Harapannya, klien sadar akan emosi dirinya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya, tentu dengan bantuan psikolog. Seperti mengakui, “Oh, ternyata selama ini saya masih dendam dengan seseorang.”

Saya refleksikan lagi karena sempat berpikir, apakah pemikiran dan praktik seperti itu bisa diterima dalam perspektif Islam ? Saya kaitkan dengan materi tasawuf sejauh yang dipahami. Allah menampakkan penyakit hati tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Bagi orang yang bertaubat, ditampakkannya penyakit hati merupakan hal penting karena individu bisa menyadarinya dan berniat melakukan perbaikan diri agar penyakit tersebut hilang sedikit demi sedikit. Dalam konteks konseling dan psikoterapi, konsep humanistik mungkin bisa diterapkan bagi orang yang terlanjur larut dalam syahwat aau hawa nafsunya tapi ada potensi untuk bertaubat. Emosi klien sengaja dimuntahkan, biarkan dia mengekspresikan sesuka hati. Setelah emosi mereda dan klien bisa diajak berpikir, psikolog membantunya melakukan refleksi atas ekspresi emosi yang barusan ditampilkan. Caranya bisa dengan melabel emosi tersebut dan mengidentifikasi jenis penyakit hati apa yang sedang dideritanya. Harapannya adalah klien akhirnya mengenal emosi yang sedang dialami sekaligus penyakit hati yang mengendap sekian lama. Pilihan tetap ada pada klien: apakah ingin sembuh dari penyakit itu atau tetap menyimpannya. Jika ingin sembuh, proses konseling bisa menjadi titik awal untuk taubat.

Orang yang sehat jiwanya adalah yang dapat mengenali dan meregulasi emosinya, bukan mengingkari adanya emosi itu. Ketika sedang marah di tempat umum, dia sadar bahwa dirinya sedang marah. Kesadaran bahwa marah itu menguras energi dan berdampak buruk bagi dirinya, mendorongnya berusaha untuk meregulasinya, yaitu dengan tidak mengekspresikannya. Salah satu caranya bisa dengan istighfar. Terkesan simpel ya, ketika diuraikan secara rasional.. Namun, pada kenyataannya akan sangat sangat sulit untuk dipraktikkan, terutama bagi orang yang tidak menyadari emosinya.

Jika memang emosi baik positif atau negatif harus diingkari, untuk apa Allah menciptakan emosi senang, geli, kecewa, sedih, takut, marah, dan sebagainya ? Apa jadinya hidup tanpa emosi ? Emosi itu diregulasi, bukan diingkari.

Selamat mencoba ! :)

Sabtu, 14 Maret 2015

Kembali ke rumah, kembali menulis

Baru nongol lagi nih setelah sekian lama ga nge-blog.

Alhamdulillah, aku kembali ke rumahku di Jogja setelah 4,5 tahun merantau di kota orang. Memang rumah Jogja ini bukan tempat kembaliku yang sebenarnya. Kita semua akan kembali pada Allah kan, badan aja bakal hancur dimakan mikroba di tanah, bener ga ?

Terus, apa yang akan aku lakukan setelah selesai masa studi di tanah rantauan ?
Setelah beberapa kali mempertimbangkan & mohon petunjuk Allah, aku tetapkan diri untuk tinggal di Jogja dalam jangka waktu yang lama, bukan seperti liburan yang hanya beberapa minggu saja. Berharap bisa lanjut kuliah di sini dan ya.. Entah ke mana lagi setelah itu. *Parah, padahal semestinya dah mulai punya proyeksi karena itu ditanyakan saat seleksi ujian masuk.

Balik lagi ke rumah Jogja, bakal ada banyak sekali hal yang membuat mata melebar, dada sesak, alis terangkat, terlinga panas, dan sebagainya. Gimana ga ? Aku hidup bersama orang-orang dari 3 generasi: eyang, bapak ibu, adek-adek. Eyang dengan karakteristik orang dari cohort 1930-an, bapak ibu sebagai orang dewasa madya, dan adek-adek yang masyaAllah bervariasi (late childhood, early adolescence, middle adolescence). Mereka punya keunikan masing-masing, value yang berbeda pula. Konflik sangat mungkin terjadi. Sebuah setting yang menurutku baru, bagi anak yang sudah biasa jauh dari rumah.

Tempat belajar hidup nih.. Belajar dalam arti luas, termasuk tetap lanjut mempelajari hal-hal yang didapatkan selama di Depok. Walaupun aku punya tampang pengangguran gini, rasanya seperti kuliah. Masih ada proyek nulis, bantu penelitian dosen, lanjut baca-baca buku psikologi Islam, dsb. Yang bikin seru adalah, gimana caranya bisa jalanin hidup sebagai manusia dengan multi peran: mbak, anak, cucu, pelajar. Pas belajar, ujug-ujug dipanggil. Lagi ngerjain tugas diminta ke dapur. Lagi nulis diajak ngobrol. Harus bisa menyesuaikan diri.

Tempat belajar lebih dari sekedar memperbaiki skill mengelola peran, tapi juga meningkatkan kematangan jiwa. Ga boleh egois, menahan nafsu yang cenderung pada hal-hal duniawi, menahan emosi negatif yang akan terekspresikan, ga boleh gampang mengeluh, dan sebagainya. Memang di sini bukan tempat yang bagus untuk pematangan jiwa, tapi ini adalah ujian.

Entah sampai kapan bisa belajar hidup di sini, yang jelas aku coba ikuti saja skenario yang dibuat oleh Pembuat Skenario Terbaik sepanjang masa.


Kamis, 18 September 2014

Pelajaran di balik sakit

Beberapa hari ini aktivitas-aktivitas sengaja aku kurangi. Rasanya pengen banyak istirahat.Benar kan? Daripada memaksakan diri ke kampus dalam rangka mengerjakakan skripsi, sementara mau bernapas aja agak susah, lebih baik istirahatkan diri dan jangan terlalu banyak mikir. Itu pelajaran yang bisa diambil dari sakit: secara tidak langsung terbebaskan dari kesibukan beberapa saat. Yeay !
*Salah fokus.. Bukan, bukan itu pelajaran utamanya.

Jauh dan lebih dari sekedar membebaskan diri dari kesibukan, aku bisa petik beberapa “buah” pelajaran dari “pohon” sakit flu berat ini yang mengakibatkan agak susah bernapas:
1    1. Aku semakin ingat, Allah yang menyembuhkan siapapun dari sakit, sementara obat hanyalah bantuan tambahan. Mengingat Allah (dzikrullah) adalah obat untuk jiwa, sementara makan atau minum yang masuk pencernaan adalah obat untuk badan. Jadi, perlu berdo’a juga kalau memang ingin sembuh.
2     2. Berusaha untuk sabar. Menahan diri dari mengeluarkan keluhan yang tidak bermanfaat, optimis bakal sembuh, dan terus berusaha untuk sembuh. Usahaku antara lain: menghindari angin malam, minum ramuan-ramuan herbal, banyak minum air putih hangat, dan istirahat yang cukup.
     Aku juga bukan tipe orang yang gampang minum obat kimiawi dan ke dokter untuk mendapatkan resep obat. Menurutku, obat dari bahan alami jauh lebih baik daripada obat kimiawi walaupun proses penyembuhannya lebih lama. Jauh lebih baik repot-repot meracik minuman jahe, madu dicampur jeruk nipis, merebus air, daripada minum obat kimiawi yang instan. Sakit seperti pilek, demam, dan batuk, itu semua kan reaksi tubuh setelah ada benda asing, seperti virus atau bakteri yang masuk. Lendir saat pilek membantu memblokir benda asing yang berusaha masuk ke tubuh, supaya jangan sampai masuk lebih jauh. Begitu juga dengan panas tubuh tinggi dan batuk. Semua punya fungsi masing-masing.
     Jadi, bukan batuk atau pileknya yang semestinya segera dihilangkan, tapi gimana caranya menjaga daya tahan tubuh tetap fit. Proses ini yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Itu pengetahuanku seputar kesehatan sebagai alasan untuk selalu berusaha berpikir positif ketika sakit dan tidak terburu-buru untuk mengkonsumsi yang instan.
3     3. Tetap menyerahkan semuanya kembali pada Allah. Memang aku berusaha dan optimis untuk sembuh, tapi soal kapan sembuhnya, itu terserah Allah. Kalau masih tetap sakit, yakin saja, pasti ada pelajaran di balik sakit ini. Sakit adalah kesempatan bagi badan untuk beristirahat. Badan yang sering kali kita paksa untuk bekerja melebihi kemampuannya. Lebih jauh lagi, sakit adalah momen  yang tepat untuk melakukan perenungan yang hampir tidak pernah dilakukan selama kita sehat. Serasa Allah berkata, “Lihat dirimu, Rizka. Apa yang kamu bisa dapatkan dari kejadian berupa sakit ini ?” Soal skripsi yang terhambat, tidak perlu dibuat sulit. Alhamdulillah, aku masih bisa mengerjakan tugas akhir itu walaupun progresnya lambat. InsyaAllah, lulus semester ini !

Kurasa aku sudah cukup kenyang memakan “buah” pelajaran dari “pohon” sakit. Setelah kenyang, aku harus minum air “kesimpulan” sebagai penutup. Jadi, sakit bukanlah sebuah malapetaka karena ada pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari itu, kalau kita memang berusaha mengambil pelajaran.
Semoga kita termasuk orang yang pandai mengambil pelajaran yaaa : )


Jumat, 05 September 2014

Hikmah dalam Hantaman, Pelajaran dalam Intimidasi



Tau rasanya dihantam pakai batu bata ? sakit kan…
Anggap saja intimidasi adalah hantaman batu bata itu. Suatu saat, ada orang yang berniat baik memberikan motivasi, tapi sayangnya dia memotivasiku dengan cara yang kurang tepat. Mungkin dia yang tidak terlalu mengenalku atau bisa jadi memang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, jadi merasa biasa saja ketika memotivasi dengan cara yang menurutku mengintimidasi.

Ketika mengingat perkataan yang diklaimnya sebagai motivasi, sejujurnya aku setuju dengan apa yang dikatakannya, tapi di sisi lain rasanya… sengit tenan, dongkol, males ngadepin dia. Intimidasi tetap lah intimidasi, menyakitkan, seperti dihantam batu bata, jauh lebih sakit dibandingkan dihantam kapas dengan berat dan kekuatan yang sama dengan hantaman batu bata. Hantaman itu membuatku lemah, enggan berhadapan dengan sumber hantaman itu.

Aku pun berpikir, rasanya ada yang salah. Semestinya aku harus lebih kuat.
Kontemplasi singkat.. Ternyata Allah memberiku petunjuk. Aku mendapatkan pelajaran:
1    1. Dalam hidup ini pasti ada orang yang zholim, tidak ada manusia yang Maha adil. Pasti ada orang yang berkata-kata tanpa memikirkan kondisi lawan bicaranya, tidak empati, semaunya saja menggunakan mulut.
2   2. Yang jadi persoalan adalah bagaimana caranya aku bisa menangkis hantaman, bukan menjauhi sumber hantaman karena hantaman pasti selalu ada. Menjadikan hati lebih kuat menghadapi orang yang berbicara semaunya, sementara kebiasaan bicara semaunya sulit dihilangkan dari diri orang lain dan itu sulit dijauhi.
3   3. Solusi utama adalah minta pada Allah untuk menguatkan hati. Hati yang kuat membuat kita mampu menangkis hantaman, dibantu dengan pengalaman empiris. Hati yang kuat juga membuat diri mampu berpikir jernih, sehingga bisa mengambil hal positif dari sebuah intimidasi. Perilaku pun juga membaik akhirnya.

Lain kali, ketika hantaman serupa datang, aku akan menghadapinya dengan tenang dan berpikir positif, insya Allah. Motivasi dalam intimidasi akan aku ambil, walaupun intimidasi akan aku lupakan.

Kalau ada yang menghantam dengan mengatakan “keluar dari zona nyamanmu !”. Aku akan menanggapi, “Ya, aku akan melakukannya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.” Masih ada hantaman lain yang lebih penting untuk diurus. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan seperti  kesibukan dan kesiapan hati. Akan berbahaya kalau aku memaksakan diri untuk keluar dari zona nyaman sementara ada tugas lain yang lebih penting untuk diselesaikan dan hati belum siap. Aku yang lebih mengenal diriku, Allah yang paling mengenal diriku. Aku yang lebih tahu dan berhak mengatur diriku tentang kapan aku akan keluar dari zona nyaman, dibandingkan manusia lain.

Memang, manusia bukan yang Maha adil, pasti pernah berbuat zholim.

Semoga Allah mengampuni yang berbuat zholim dan akhirnya kita semua bisa mengambil pelajaran dari kesalahan yang telah diperbuat.


Sabtu, 28 Juni 2014

Fokus Riz.. Fokus !

Marhaban Ya Ramadhan !

Semoga kita bisa mengisi Ramadhan ini untuk memperbaiki diri, kawan.. Ambil hikmah semua kejadian yang menimpa. Nah, kali ini aku mau cerita kejadian yang ‘ajib di malam pertama Ramadhan. Kenapa sampai aku bilang ‘ajib alias menakjubkan ? Simak cerita berikut..

Sudah dengar pengumuman bahwa besok adalah 1 Ramadhan, berarti malem ini sudah mulai sholat tarawih. Aku sengaja sholat di MUI. Seperti biasa, di awal Ramadhan masjid masih penuh. Masih semangat-semangatnya nih (harapannya tiap orang punya semangat yang konsisten untuk seterusnya). Saking semangatnya, anak-anak juga ikut orang tuanya ke masjid.

Mereka bertaburan di masjid. Posisiku aja berdekatan dengan mereka. Di depan ada seorang ibu dengan 2 anak perempuan yang banyak geraknya, di sebelah kiri juga ada ibu dengan satu anak perempuan dan satu anak laki-laki.

Kejadian yang ‘ajib ini dimulai ketika sholat ‘isya. Pengennya kalau sholat bisa khusyu’, tapi ternyata Allah mengujiku dengan terlihatnya setitik cairan coklat tua di tempat sholatku. Perhatianku sempat teralihkan, konsentrasi saat sholat buyar, tapi aku tetap berusaha mengembalikan perhatianku pada-Nya. Cairan itu aku lupakan, lalu ternyata stimulus serupa muncul melalui indera lain. Kali ini bukan lewat mata, namun lewat hidung. Pas sujud, aku mencium aroma permen kopi. Hummmm. Harumnya. Untungnya ini ga terlalu mengganggu. Lebih baik daripada sujud di alas yang bau apek.

Selesai sholat, aku baru bisa menghilangkan pemandangan yang mengganggu itu. Minta tisu pada ibu di sebelahku, lalu aku bersihkan. Ibu itu juga bilang, “Ngilangin permen kopi ya ?”

Aku jawab “Ya”

“Di tempat lain juga banyak tuh. Tadi ada anak-anak main, mungkin permennya jatuh.”

Baiklah. Jadi ini ulah anak-anak. Kumaklumi.

Sholat berjalan normal, ga ada masalah sampai sholat witir. Kejadian ‘ajib muncul lagi saat sholat witir. Dua anak perempuan di depanku mulai berulah. Lari-lari memotong shof sholat, termasuk punyaku. Salah satu dari mereka narik-narik mukena ibu-nya, terus dibawa muter mengelilingi beliau. Sempet kejar-kejaran sambil muterin ibunya. Parahnya, salah satu anak itu ga sengaja menginjak susu kotak yang ada di dekat ibunya.

“Craaat,” andaikan telingaku bisa mendengar pemandangan itu, suaranya air susu yang muncrat mungkin akan seperti itu. Dengan cepat air itu membasahi tas mukena milik orang lain yang sholat di sebelahku.
Sudah deh. Konsentrasiku buyar. Buktinya, aku masih ingat kejadian itu dan bisa menggambarkan dengan jelas melalui tulisan ini. Apalagi aku risih lihat air tumpah. Kalau ada air tumpah di kamar, biasanya langsung aku lap. Sayangnya, aku ga bisa melakukan itu karena sedang sholat.

“Riz.. fokus Riz. Balik ke sholat. Ayo, berusaha khusyu’”

Ah.. itu pasti si hati sudah mulai mengingatkan. Tapi rasanya susah sekali bagi si akal untuk memusatkan perhatian kembali pada aktivitas sholat. Pemandangan barusan benar-benar membekas, apalagi mereka masih melanjutkan aktivitas mereka.

Wajar sih, masa anak-anak memang lagi banyak gerak. Inget mata kuliah psikologi perkembangan. Tahap early childhood itu anak sedang mengembangkan gross motor skill, atau keterampilan motorik kasar. Wajar saja mereka banyak berlari. Aku maklum dengan itu. Di sisi lain, aku lihat ibu dengan dua anak di sebelahku. Salah satu anaknya sholat dengan cukup tertib. Ga buat masalah. Aku ga tau apa persisnya yang membuat perbedaan perilaku anak. Bisa karena cara orang tua mendidik anak, lingkungan di rumah, atau dari karakter anak itu sendiri.

Dari kejadian ‘ajib itu, aku bisa mengambil dua hikmah:
1.     1. Ini beneran ujian dari Allah. Dia menguji kekhusyu’an sholatku. Lain kali, aku harus tetap mempertahankan kekhusyu’an sholat dengan memilah dan memilih stimulus dari luar, mana yang perlu diperhatikan, mana yang harus diabaikan. Yang perlu diperhatikan contohnya seperti Rasulullah Sallahu ‘alahi Wassalaam yang memperlama sujud ketika cucu beliau duduk di punggung. Kalau dianggap ga penting, bisa saja beliau bangkit dari sujud sementara cucunya jatuh. Sementara stimulus yang seharusnya diabaikan adalah kejadian yang aku alami sebelumnya. Serius, kalau dipikir-pikir ga penting banget memikirkan susu tumpah saat sholat. Kejadian itu bisa diatasi setelah sholat selesai.
2.     2. Hikmah lain adalah gimana caranya bisa mendidik anak untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Aku tau, anak kecil butuh banyak gerak untuk mengembangkan gross motor skill, tapi ada waktu dan tempatnya untuk melakukan banyak gerakan itu. Setting masjid dan sholat jama’ah tarawih bukan tempat yang tepat untuk banyak bergerak. Jadi, ajari anak dengan sabar untuk jangan lari-lari di masjid terutama ketika orang-orang lain sedang sholat. Kalau mau lari-lari, nanti di luar masjid setelah sholat jama’ah sudah selesai. Tentu proses mendidik seperti ini, mengajari anak menempatkan sesuatu pada tempatnya, bukan proses yang instan. Orang tua harus sabar yang jelas. Sabar dalam arti bukan pasrah, terserah mau ngapain, tapi berusaha dengan pantang menyerah tanpa perlu marah-marah dalam menasihati anak dan optimis akan ada perubahan yang lebih baik.


Begitulah Allah mengajariku melalui dua kejadian ‘ajib malam ini. Semoga kawan-kawan pembaca juga bisa mendapatkan hikmah setelah membacanya : )

Minggu, 18 Mei 2014

Fenomena The loss of Adab: Ibu-Ibu dan Ibu Hamil

Teman-teman, aku sengaja nulis lagi di blog pribadiku. Harus nulis karena dorongan untuk menuliskan pengalaman ini ga bisa ditahan.
Hari ini, rasanya mataku menerima beberapa stimulus yang ga mengenakkan, membuat hati ga nyaman. Aku ceritakan salah satu saja…
Pagi hari sekitar pukul setengah 10, aku duduk di bangku besi yang panjang, menunggu kereta ke arah Jakarta Kota. Posisi dudukku di ujung. Beberapa meter ke arah selatan, ada beberapa ibu yang duduk. Di paling ujung ada seorang ibu, sebelah kiri beliau ada anak laki-laki yang masih kecil. Sepertinya dia memang anaknya karena terlihat adanya komunikasi yang intens. Sebelah kirinya lagi, ada ibu-ibu lain. Tempat duduk relatif penuh saat itu..

Beberapa saat kemudian, seorang ibu hamil datang. Ibu itu terlihat masih muda dan usia kehamilan sudah cukup tua. Karena tempat duduk penuh, beliau terpaksa berdiri. Posisi beliau ada di depan bangku tempat duduk ibu-ibu yang aku sebutkan sebelumnya. Di menit pertama, ga ada satupun dari mereka  berdiri dan mempersilakan ibu hamil itu duduk di tempat mereka.

Akupun berdiri. Maksud diriku untuk mempersilakan ibu itu duduk di tempatku. Ternyata aku telat, tempat dudukku sebelumnya keburu dipakai orang lain.

Aku mengamati ibu-ibu yang daritadi duduk di belakang ibu hamil itu. Miris rasanya. Sesama perempuan, tapi kenapa ga ada empati ya ? Ga ngerti apa sebabnya, tapi aku memikirkan  beberapa kemungkinan. Pertama, kumpulan ibu yang duduk berjejeran itu memang bener-bener ga lihat ada ibu hamil yang berdiri di depan mereka, tapi asumsiku itu sepertinya terbantahkan. Ibu hamil itu berusaha duduk di tempat yang tersisa, paling ujung, dekat ibu yang membawa anaknya. Sayangnya, sisa tempat itu ga cukup, lalu ibu hamil itu berdiri lagi. Kemungkinan kecil banget kalau sampai ibu-ibu itu bener-bener ga lihat ibu hamil yang berdiri di depan mereka, apalagi saat beliau coba duduk di bangku itu. Semestinya para wanita bisa kan, membedakan mana ibu yang sedang hamil besar dengan orang yang sedang ga hamil ?

Duh… Kasihan banget.. Bodonya, aku ga kepikiran “memaksa” orang lain yang sudah duduk, untuk mengalah dengan mempersilakan ibu hamil itu duduk di tempatnya. Aku lihat masih ada celah beberapa senti di sebelah kiri anak laki-laki itu. Sebenernya bisa saja ibunya menyuruh anak itu geser, tapi ternyata ga.

Pas banget, aku lihat ada tempat kosong di bangku lain. Aku bilang ke ibu hamil itu, menyuruh beliau untuk duduk di tempat itu. Beliau tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Ga lama setelah itu, kereta datang…
Cerita belum berakhir. Aku lanjutkan pikiranku tentang fenomena ini.

Kemungkinan kedua, ibu-ibu itu tau kalau ada ibu hamil berdiri di depan mereka, tapi ga punya ilmu yang memadai tentang ibu hamil: ga tau bahwa ibu hamil kondisi fisiknya cenderung lebih lemah daripada ibu yang ga hamil. Dengan asumsi itu, jadi mereka ga merasa bersalah dengan tindakan mereka untuk tetap duduk. Aku berpikir… Bingung. Kalau kemungkinan kedua benar, rasanya aneh. Salah satu ibu yang duduk di bangku besi itu membawa anak kecil, yang menurutku itu anaknya.  Kalau memang itu anaknya, pasti dia merasakan gimana susahnya mengandung anak, jadi punya ilmu tentang kondisi fisik kehamilan wanita secara umum. Kalau memang semua ibu yang duduk di bangku itu belum pernah hamil, semestinya mereka berpikir gimana kalau suatu saat nanti mereka hamil. Mestinya mereka, walaupun mungkin ga punya ilmu tentang kondisi fisik ibu hamil, membayangkan gimana rasanya hamil dan terpaksa berdiri di tempat umum karena ga dapet tempat duduk.  

Kemungkinan ketiga, sebenernya mereka punya ilmu tentang kondisi fisik ibu hamil. Tapi, karena ada penyakit di dalam hati mereka yang aku sendiri ga tau apa tepatnya, mereka cuek dengan keberadaan ibu hamil yang berdiri di depan mereka. Ini yang paling berbahaya karena penyakit hati sulit disembuhkan kalau si pemilik hati ga merasa ada penyakit dalam hatinya. Seperti seseorang yang sebenernya kecapekan dan sudah mulai terlihat pucat, tapi dia ga merasa capek, atau bahkan berpikir dirinya tetap sehat-sehat saja. Orang yang mengingkari dirinya punya penyakit hati, misal sombong, tetap bakal ga sadar dengan kesombongan itu, apalagi kesadaran untuk menghilangkan kesombongan dalam hatinya.

Kalau kemungkinan ketiga benar, inilah yang namanya the loss of adab, menempatkan sesuatu di tempat yang ga semestinya.. Mereka tau kalau ibu hamil fisiknya cenderung lebih lemah daripada ibu yang ga hamil, tapi mereka salah menempatkan diri. Kalau mereka punya adab yang baik, mereka sadar diri. Dengan keadaannya yang ga hamil dan tentu saja lebih kuat  berdiri, mereka akan menempatkan diri dengan tepat, yaitu memilih untuk berdiri dan mempersilakan ibu hamil itu duduk. Secara bersamaan, mereka menempatkan ibu hamil di posisi yang tepat. Kondisi itu terjadi ketika sudah ada ilmu.
 Masalahnya, di situasi yang aku lihat justru yang terjadi sebaliknya. Ada ilmu, tapi salah menempatkan. Yang lebih kuat justru tetap duduk. Yang lebih lemah malah berdiri. Ini namanya ga adil. Adab yang salah ga mungkin menciptakan keadilan.

Aku ga suka melihat situasi itu, ketidakadilan. Wajar saja kalau hati ga nyaman. Ada yang mengganjal rasanya. Memang semestinya begitu karena hati manusia secara fithroh menolak ketidakadilan. Kalau justru suka dengan ketidakadilan, perlu dicek lagi. Mungkin ada penyakit dalam hatinya, atau kurang ilmu.


Ini baru satu, dan masih banyak ketidakadilan lainnya yang terjadi, karena adanya the loss of adab. Ya… memang harus menguatkan jiwa & raga untuk menghadapi berbagai fenomena the loss of adab.

Minggu, 30 September 2012

Bingung

Aku hanya bingung, ketika melihat banyak pemuda pemudi saling memadu kasih secara terang-terangan dan berlebihan. Padahal ga ada yang menjamin mereka saling mencintai selamanya. Kalau dah putus, ada yang nangis, mau balik lagi, atau cari yang lain. Emang ga bisa sabar buat mencintai dalam diam untuk sementara?

Aku bingung ketika ada wanita yang dengan senang hati mengumbar auratnya, sementara banyak kasus pelecehan yang rawan bagi semua wanita.

Bingung mendengar orang berkata kotor, padahal berkata kotor itu ga menyelesaikan masalah, bahkan bisa membawa masalah. Emang kalau dah misuh, bakal puas ? Serius, kasian anak-anak dari para misuhers. Mereka bakal mencetak generasi pengumpat !

Bingung saja, ketika ada orang yang berprasangka terhadap sesuatu, tapi ternyata prasangka itu jauh dari kenyataan. Sangat-sangat jauh. Disuruh klarifikasi, males. Asumsi terus tanpa data berupa fakta yang memadai.

Bingung, ketika melihat ada orang menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang sebenernya ga perlu. Kalau bosen sama benda itu, cari lagi yang lain. Kalau ada yang baru, terobsesi untuk beli.

Bingung kali... Melihat status-status ga bermutu yang berisi kegalauan ga bermakna atau ambigu. Kalau dah pasang status galau, trus mau apa ? cari jumlah like sebanyak-banyaknya ?

Bingung, ada orang yang mempermainkan agama. Pindah agama cuma gara-gara cinta. Kalau cintanya ganti, agamanya juga ganti. Trus, agama bagi orang seperti itu berfungsi buat apa ?

Lagi-lagi bingung... Banyak orang merokok di tempat umum. Dah ganggu orang di sekitar, termasuk aku yang asmatik, ganggu diri sendiri juga. Padahal resiko penyakit dari merokok tuh ga kecil.

Bingung ketika ada mahasiswa/i yang seneng banget titip absen & bolos. Padahal uang masuk kuliah tuh mahal cuy dan banyak yang ga bisa kuliah gara-gara biaya mahal. Kalau titip absen, bisa ikut ujian. Emang bisa ya ? ga ikut belajar di kelas, bakal bisa jawab soal-soal ujian ? Atau nyontek ? Kalau nyontek, bisa lulus. He ? Ada ya, universitas yang mau meluluskan orang seperti itu ? mboh lah...

Masih ada bingung-bingung yang lain, tapi ga mungkin aku tulis satu per satu di sini.

Aku makin bingung ketika ada yang bilang, "kenapa yang begituan harus dibingungkan"
Lebih bingung lagi kalau diri kita melakukan apa yang kita bingungkan.

Aku memang seorang pembingung sekaligus pemikir. Ga berharap bingung itu hilang. Jangan sampai bingung itu hilang.

Tetaplah bersyukur, bagi kalian yang masih bisa bingung dan berusaha memecahkan kebingunan itu.
Bersyukur lagi ketika ada orang yang berbaik hati menjawab kebingungan-kebingunganku, sehingga aku paham.


Kamis, 28 Juni 2012

BangJo !


BangJO ? Apaan tuh ? 

Itu akronim dari “Bangga jadi Jomblo”, sebuah  istilah yang merepresentasikan prinsipku selama ini, sampai waktu yang ditentukan.
Aku bangga jadi seorang jomblo walaupun ga berharap bakal jomblo seumur hidup. Berbagai alasan yang didapatkan dari pengalaman, pengetahuan, bahkan perasaan. Definisi jomblo (menurutku) adalah lawan kata dari pacaran. Pacaran sendiri definisinya ga jelas. Mnurutku: keterikatan status antara laki & perempuan yang ga punya hubungan darah. Intinya, jomblo itu “sendiri”, tapi tidak merasa sendiri karena lebih bebas dalam berelasi dengan siapapun !

Kenapa aku bangga jadi Jomblo ?

Tentu, itu karena keuntungan yang didapat. Apa aja keuntungannya ?

1.      Bisa menggali potensi diri lebih dalam, tanpa ada gangguan.
2.       Kesempatan berprestasi terbuka lebar
3.       Waktu tidak terbuang sia-sia untuk pacaran
4.       Bebas berteman dengan siapapun

Kerugian jadi Jomblo
1.       kesepian
2.       merasa kurang kasih sayang

Yah.. Hari gini masih punya masalah kayak gitu ? Jangan sampai seperti itu lah. Masalah-masalah tadi itu bisa diatasi. Soal kesepian, ingatlah bahwa kita ga pernah benar-benar sendiri. Allah selalu menemani. Kalau kurang kasih sayang, ingatlah... Sumber kasih sayang ga Cuma dari 1 orang gebetan !

 Jangan khawatir kawan, kita tetap bisa jadi jomblo TeraTas (sejahtera dan berkualitas) atau jadi JoGLo (jomblo gila tapi loyal). Loyal idealnya ya sama Allah. Logikanya, kalau dah loyal sama Allah, pasti loyal sama seseorang yang dijodohkan Allah buat kita ^ ^
Ayolah, lepaskan status jomblo kita dengan cara terhormat. Kalau mau mendapatkan itu, bersabarlah hingga tunggu waktunya, kawan : )

*Sekali lagi, ini adalah opini. Ada bantahan ? Silakan diutarakan.

Terinspirasi dari “La Tahzan for Jomblo” karya Asma Nadia dkk.

Selasa, 10 April 2012

Rela diserang Bertubi-tubi: Terjebak di dunia lain

Ini memang pengalaman pribadi, tapi semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membaca.

Gila... bener-bener buat stres. Gimana ga stres ? Terjebak di dunia lain yang ga diharapkan. ..

Itulah situasiku saat ini. Aku mahasiswi Psikologi, ga minat sama politik, hukum, hal-hal dadakan, perdebatan, suasana rapat yang panas. Justru komponen-komponen pemicu stres itu seakan-akan menyerangku secara bertubi-tubi. *majas hiperbola. Wajar sekarang nih, aku gampang cemas. Dikit-dikit tanya, bilang ada masalah, ngeluh, dan hal-hal merepotkan lainnya bagi atasanku.

Mau gimana lagi ? Aku sudah terlanjur mengucapkan janji setia selama setahun untuk bekerja sebagai Deputi di Departemen yang penuh dengan hal-hal dadakan & membuatku cemas. Aku sementara ini berpikir, “Sudahlah, ini hanya satu tahun kepengurusan, ga nyampe setahun lagi aku bisa melepaskan status sebagai diplomat abal-abalan. Aku tau, ini bukan duniaku. Aku tau, aku terjebak di sini. Tenang aja, ga lama lagi, aku bisa lepas dari ini.” Yang penting, tetap pegang amanah selama dipasang label deputi, atau bahkan yang lebih parah: seorang diplomat.

Diplomat ? Yap... Itu profesi keren bagi beberapa orang dalam departemenku ini. Profesi dambaan bagi mereka, tapi ga bagiku. Ga sama sekali. Aku ga bercita-cita jadi dilpomat. Ga kebayang gimana anakku nanti kalau ibunya lebih sibuk mengurusi negara ketimbang anaknya sendiri. Perkembangan anak bisa bermasalah karena ga deket sama ibunya. Ga percaya sama ibu, terlambat bicara, perkembangan aspek sosial-emosional terhambat, hal-hal fatal lainnya yang berakar dari hal sepele (ibu lebih mementingkan karir daripada anak sendiri), bisa terjadi. Aku dengan tegas menyatakan: GA MAU ITU TERJADI. Aku lebih rela kalo anakku besarnya nanti jadi diplomat kalau itu emang minat dia. Itu jauh lebih keren daripada aku sebagai seorang ibu (nantinya, aamiin) jadi diplomat sukses tapi keluarga hancur. Hmm. Itu beda kalo jodoku nanti seorang diplomat, itu ga masalah karena dia emang tugasnya cari nafkah kan..

Itu barusan adalah paparan alasan kenapa aku ga mau jadi diplomat. Memang sudah jelas bahwa aku memang ga minat sama kerjaanku di departemen ini. Lagi-lagi, kabar dadakan, rapat dadakan, apa-apa dadakan. Serba dadakan... menyebalkan. Mencemaskan.

Cemas adalah sesuatu yang ga mengenakkan. Tapi, bukan berarti yang ga mengenakkan harus dihindarkan kan ? Yup... Aku ga mau menghindari sumber-sumber kecemasan ! Ga masalah ada serangan bertubi-tubi dari atasan: tugas dadakan, disuruh ngomong pake bahasa asing dengan tamu, buat proposal malem ini jadi, segera menghubungi pembicara, segera rapat saat ini juga. Selama aku mampu, aku akan melawan kecemasan itu. Ga masalah kok kalau orang-orang sekitarku secara sadar atau ga sadar buat aku cemas. Kalau aku menghindari kecemasan, kapan aku mau maju ?

Itulah sikapku. Kecemasan emang ga bisa dihilangkan dengan instan, bisanya orang mengatasi kecemasan itu dengan strateginya. Mungkin, di awal-awal ini strategiku adalah merepotkan orang lain sebagai tempat “curhat” tentang masalah-masalah terkait. Ketika orang yang diajak ngomong itu menenangkan, aku akan lebih tenang. Itu di awal, mungkin strategiku untuk mengatasi kecemasan di akhir kepengurusan akan beda, jauh lebih baik. Semakin sering aku berinteraksi dengan kecemasan, semakin pandai aku dalam mengatasinya. Semoga, aamiin.

Terlepas dari kecemasanku dalam bekerja, aku yakin, posisiku sekarang sebagai deputi punya dampak positif buatku atau mungkin buat orang lain untuk ke depannya. Bisa saja, kemampuan negosiasi bakal berguna ketika aku harus menasihati anak yang bandel. Keren kan... ada ibu yang “mantan diplomat” bisa pake ilmunya buat mendidik anak ^ ^