Tampilkan postingan dengan label tashowwuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tashowwuf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2015

Kenali dan Regulasikan Emosi !

-Refleksi kuliah Observasi dan Wawancara Humanistik.

Ini adalah secuplik materi kuliah dengan dosen yang cukup “Humanistik”. Saya coba pahami melalui analogi berikut. Kita mau muntah, sedang di tempat umum. Jadi harus ke kamar mandi dulu karena muntah di tempat umum adalah hal memalukan. Begitu juga dengan mengekspresikan emosi, perlu pergi ke tempat yang kondusif dulu supaya tidak dianggap aneh-aneh oleh orang lain. Dosen saya mengatakan, kita orang Indonesia dibiasakan untuk meniadakan emosi, “Ga boleh nangis, marah, dsb”. Apak akibatnya ? Kita menjadi tidak peka dengan emosi diri sendiri, sehingga tidak bisa mendeteksinya. Yang terjadi hanyalah ada gejolak dalam diri tanpa tahu apa itu. Contohnya, ada pengalaman pahit pernah disakiti oleh bapaknya. Rasanya benci, marah, ada dendam, tapi bingung harus bagaimana karena yang menyakiti adalah orang tuanya. Dia hanya memendam perasaan itu, disimpan, ditutupi, dan berusaha dilupakan karena takut. Bapak & ibunya mungkin sering mengatakan, “Marah sama orang tua itu durhaka, itu dosa”. Khawatir juga dilabel sebagai "Anak tidak berbakti pada orang tua" oleh orang-orang lain yang tahu. Dalam pikirannya, “Aku ga boleh menampakkan marah walaupun sebenernya benci sama bapak, ya sudahlah, lupakan saja.” Namun, sebenarnya di dalam hatinya yang terdalam, dia belum memaafkan. Hanya saja itu diingkari, seakan-akan tidak merasakan apapun. Suatu saat emosi itu bisa terekspresikan, seperti meledak. Yang terjadi adalah bingung, “Kok aku seperti ini ya.. Inikah diriku ?” Ini gambaran contoh seseorang yang tidak mengenal emosi dirinya. Kenal saja tidak, apalagi meregulasinya.

Aplikasinya dalam konseling.. Aliran humanistik menekankan empati dan emosi. Klien dibiarkan untuk memuntahkan emosinya karena belum tentu orang tahu apa yang tersembunyi di dalam dirinya (masih dalam level mental, belum sampai jiwa). Mungkin benci, sedih, marah, kecewa, dsb. Terkadang orang juga merasa berat menceritakan pengalamannya, saking beratnya masalah yang dihadapi sehingga bingung mulai cerita dari mana. Ada juga orang yang bersikeras dirinya baik-baik saja, pura-pura kuat, padahal dirinya rapuh. Mau menangis, teriak keras, mengumpat, semua dibiarkan sampai klien siap untuk bercerita dengan pikiran yang lebih jernih. Harapannya, klien sadar akan emosi dirinya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya, tentu dengan bantuan psikolog. Seperti mengakui, “Oh, ternyata selama ini saya masih dendam dengan seseorang.”

Saya refleksikan lagi karena sempat berpikir, apakah pemikiran dan praktik seperti itu bisa diterima dalam perspektif Islam ? Saya kaitkan dengan materi tasawuf sejauh yang dipahami. Allah menampakkan penyakit hati tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Bagi orang yang bertaubat, ditampakkannya penyakit hati merupakan hal penting karena individu bisa menyadarinya dan berniat melakukan perbaikan diri agar penyakit tersebut hilang sedikit demi sedikit. Dalam konteks konseling dan psikoterapi, konsep humanistik mungkin bisa diterapkan bagi orang yang terlanjur larut dalam syahwat aau hawa nafsunya tapi ada potensi untuk bertaubat. Emosi klien sengaja dimuntahkan, biarkan dia mengekspresikan sesuka hati. Setelah emosi mereda dan klien bisa diajak berpikir, psikolog membantunya melakukan refleksi atas ekspresi emosi yang barusan ditampilkan. Caranya bisa dengan melabel emosi tersebut dan mengidentifikasi jenis penyakit hati apa yang sedang dideritanya. Harapannya adalah klien akhirnya mengenal emosi yang sedang dialami sekaligus penyakit hati yang mengendap sekian lama. Pilihan tetap ada pada klien: apakah ingin sembuh dari penyakit itu atau tetap menyimpannya. Jika ingin sembuh, proses konseling bisa menjadi titik awal untuk taubat.

Orang yang sehat jiwanya adalah yang dapat mengenali dan meregulasi emosinya, bukan mengingkari adanya emosi itu. Ketika sedang marah di tempat umum, dia sadar bahwa dirinya sedang marah. Kesadaran bahwa marah itu menguras energi dan berdampak buruk bagi dirinya, mendorongnya berusaha untuk meregulasinya, yaitu dengan tidak mengekspresikannya. Salah satu caranya bisa dengan istighfar. Terkesan simpel ya, ketika diuraikan secara rasional.. Namun, pada kenyataannya akan sangat sangat sulit untuk dipraktikkan, terutama bagi orang yang tidak menyadari emosinya.

Jika memang emosi baik positif atau negatif harus diingkari, untuk apa Allah menciptakan emosi senang, geli, kecewa, sedih, takut, marah, dan sebagainya ? Apa jadinya hidup tanpa emosi ? Emosi itu diregulasi, bukan diingkari.

Selamat mencoba ! :)

Selasa, 12 Mei 2015

Bagaikan Tuan yang Bijak

Engkau bagaikan tuan yang bijaksana,
Aku ceritakan kisahku bersamamu, tuanku, sebagai rasa kagumku terhadapmu.
Pada awalnya, sebelum aku bekerja di sini, aku diberi suatu tugas besar. Ya, tugas besar yang harus kuselesaikan selama masa pengabdianku. Sebuah tugas yang bukan tugas main-main karena ini menyangkut berlangsungnya kehidupan semua elemen di tempatku bekerja.

Tiap-tiap orang mendapatkan tugas. Luar biasa adil engkau, tuanku. Kau bagikan tugasmu dengan sangat sangat teliti. Pantas saja semua tugas itu bukan tugas main-main, pemberian tugasnya pun bukan main-main. Engkau pertimbangkan baik-baik bagaimana kondisi badanku, potensi, kekuatan, kelemahan, dengan siapa saja aku hidup, bahkan sampai modal apa saja yang akan kau berikan padaku agar aku dapat bertugas dengan baik.

Engkau janjikan padaku sebuah penghargaan ketika aku bertugas dengan baik. Baik buruknya pekerjaanku tergantung pada apa yang dicatat oleh utusanmu, yang selalu mengikutiku ke manapun aku pergi.

Pemberian tugas selesai. Akupun paham dan menerima dengan sepenuh hati tugas ini.
Ketika aku turun lapangan, lika liku tugas menghampiri, tapi ada beberapa hal yang akan tercatat dalam benakku tentang luar biasanya dirimu.

Luar biasa pemurah dirimu. Engkau pelihara diriku setiap saat, selama aku berniat untuk menjalankan tugasku secara optimal. Ketika aku butuh uang meski aku malu untuk meminta, engkau memberikan uang itu di luar dugaanku. Aku pun diberi makan dan minum ketika lapar melalui orang-orang lain yang bertugas menyediakannya. Tanpa mengabaikan kesenangan sementara, engkau perbolehkan aku untuk bersenang-senang selama aku bertugas di tempat ini. Apapun yang aku butuhkan, engkau selalu memberikan yang terbaik bagiku.

Sebenarnya sudah cukup apa yang engkau berikan kepadaku, tapi seringkali aku mengeluhkan sulitnya tugas itu. Padahal, tiap orang tidak mungkin diberikan tugas di luar kemampuannya. Sering kali terlena dengan kesenangan di lapangan kerja ini. Terlalu banyak godaan di sini yang membuatku lupa akan tugasku. Padahal, ini tugas besar yang ketika diselesaikan aku dijanjikan memperoleh sebuah penghargaan.

Merasa tertampar karena kelalaianku, aku tersadar. Engkau menegurku dengan lembut agar aku kembali bertugas walaupun aku sering tak sadar akan teguran itu. Kalaupun aku sadar, aku mudah sekali lupa. Pantas saja di awal pertemuan kita, aku diperintahkan untuk selalu menyebut namamu ketika beraktivitas, “Aku namamu, aku bergerak”, agar aku selalu ingat. Parahnya, aku bahkan sering lupa untuk mengucapkan itu. Tapi, tetap saja engkau sabar. Selalu ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki diri sebelum masa tugasku habis.


Masih banyak hal lain yang tak bisa kuungkapkan dalam catatan ini. Satu hal yang aku harapkan adalah aku bisa bekerja dengan sebaik-baiknya hingga engkau puas dan agar aku bisa kembali menghadapmu dalam keadaan senang.

Kamis, 18 September 2014

Pelajaran di balik sakit

Beberapa hari ini aktivitas-aktivitas sengaja aku kurangi. Rasanya pengen banyak istirahat.Benar kan? Daripada memaksakan diri ke kampus dalam rangka mengerjakakan skripsi, sementara mau bernapas aja agak susah, lebih baik istirahatkan diri dan jangan terlalu banyak mikir. Itu pelajaran yang bisa diambil dari sakit: secara tidak langsung terbebaskan dari kesibukan beberapa saat. Yeay !
*Salah fokus.. Bukan, bukan itu pelajaran utamanya.

Jauh dan lebih dari sekedar membebaskan diri dari kesibukan, aku bisa petik beberapa “buah” pelajaran dari “pohon” sakit flu berat ini yang mengakibatkan agak susah bernapas:
1    1. Aku semakin ingat, Allah yang menyembuhkan siapapun dari sakit, sementara obat hanyalah bantuan tambahan. Mengingat Allah (dzikrullah) adalah obat untuk jiwa, sementara makan atau minum yang masuk pencernaan adalah obat untuk badan. Jadi, perlu berdo’a juga kalau memang ingin sembuh.
2     2. Berusaha untuk sabar. Menahan diri dari mengeluarkan keluhan yang tidak bermanfaat, optimis bakal sembuh, dan terus berusaha untuk sembuh. Usahaku antara lain: menghindari angin malam, minum ramuan-ramuan herbal, banyak minum air putih hangat, dan istirahat yang cukup.
     Aku juga bukan tipe orang yang gampang minum obat kimiawi dan ke dokter untuk mendapatkan resep obat. Menurutku, obat dari bahan alami jauh lebih baik daripada obat kimiawi walaupun proses penyembuhannya lebih lama. Jauh lebih baik repot-repot meracik minuman jahe, madu dicampur jeruk nipis, merebus air, daripada minum obat kimiawi yang instan. Sakit seperti pilek, demam, dan batuk, itu semua kan reaksi tubuh setelah ada benda asing, seperti virus atau bakteri yang masuk. Lendir saat pilek membantu memblokir benda asing yang berusaha masuk ke tubuh, supaya jangan sampai masuk lebih jauh. Begitu juga dengan panas tubuh tinggi dan batuk. Semua punya fungsi masing-masing.
     Jadi, bukan batuk atau pileknya yang semestinya segera dihilangkan, tapi gimana caranya menjaga daya tahan tubuh tetap fit. Proses ini yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Itu pengetahuanku seputar kesehatan sebagai alasan untuk selalu berusaha berpikir positif ketika sakit dan tidak terburu-buru untuk mengkonsumsi yang instan.
3     3. Tetap menyerahkan semuanya kembali pada Allah. Memang aku berusaha dan optimis untuk sembuh, tapi soal kapan sembuhnya, itu terserah Allah. Kalau masih tetap sakit, yakin saja, pasti ada pelajaran di balik sakit ini. Sakit adalah kesempatan bagi badan untuk beristirahat. Badan yang sering kali kita paksa untuk bekerja melebihi kemampuannya. Lebih jauh lagi, sakit adalah momen  yang tepat untuk melakukan perenungan yang hampir tidak pernah dilakukan selama kita sehat. Serasa Allah berkata, “Lihat dirimu, Rizka. Apa yang kamu bisa dapatkan dari kejadian berupa sakit ini ?” Soal skripsi yang terhambat, tidak perlu dibuat sulit. Alhamdulillah, aku masih bisa mengerjakan tugas akhir itu walaupun progresnya lambat. InsyaAllah, lulus semester ini !

Kurasa aku sudah cukup kenyang memakan “buah” pelajaran dari “pohon” sakit. Setelah kenyang, aku harus minum air “kesimpulan” sebagai penutup. Jadi, sakit bukanlah sebuah malapetaka karena ada pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari itu, kalau kita memang berusaha mengambil pelajaran.
Semoga kita termasuk orang yang pandai mengambil pelajaran yaaa : )


Minggu, 17 Agustus 2014

Memimpin diri sendiri: Antara raja dan tentara dalam kerajaan tubuh manusia


Teringat pada pernyataan Imam Abu Hamid Al Ghozali dalam Buku “Keajaiban Hati”. Tubuh manusia ibarat kerajaan. Hati (qalb) sebagai raja yang memimpin, akal sebagai perdana menteri, syahwat (sepertinya juga mencakup hawa nafsu) sebagai tentara. Ada pula anggota tubuh, indera, segala daya yang dipunyai manusia. Tiap-tiap komponen memiliki peran masing-masing. Jika ada satu saja yang membelot dari perannya, kehancuran pada kerajaan bisa terjadi.

Ada satu yang berpotensi untuk membelot dan mengacaukan sistem kerajaan tubuh, yaitu hawa nafsu. Dia haus akan kekuasaan. Kekuatannya sebagai tentara tidak dianggap remeh. Ketika berkuasa, semua tentara yang lain dan warga kerajaan dipaksa tunduk padanya. Hawa nafsu yang memimpin membuat manusia marah karena hal sepele, dendam ketika disakiti orang lain, atau haus akan jabatan agar dirinya berkuasa atas orang lain. Itu contoh-contoh perilaku orang yang dalam hatinya ada penyakit. Kacau bukan ? Itu sebabnya hati lah yang punya otoritas memimpin karena ia tempat cahaya Allah bersemayam. Hati yang sehat bagaikan representasi Allah dalam kerajaan tubuh manusia. Beda sekali dengan hawa nafsu yang bisa mengacaukan. Meskipun begitu, peran hawa nafsu sangat dibutuhkan.

Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya kerajaan tanpa tentara ? Musuh yang datang menyerang akan membuat kerajaan hancur. Kerajaan tubuh tanpa hawa nafsu membuat manusia hidup tanpa dorongan, motivasi, tidak punya keinginan apapun, tidak marah ketika kebenaran dilecehkan, tidak semangat ketika ada kesempatan emas datang. Hidup rasanya datar-datar saja. Ingat, ini kerajaan tubuh manusia, bukan malaikat !

Hawa nafsu pun bisa menjadi tentara tangguh yang melindungi dan mendorong kerajaan tubuh agar tetap maju. Ia pun juga bisa berpotensi untuk mengacaukan kerajaan.

Kapan hawa nafsu bisa jadi tentara yang baik atau pengacau kerajaan ?
Lihat lagi, dia menjadi tentara bagi siapa ? Pada hati tempat cahaya Allah masuk, atau pada syaithan yang jelas-jelas tugasnya mengganggu manusia ?

Tentu saja hawa nafsu harus tunduk pada hati. Hati sebagai raja dan hawa nafsu sebagai tentara. Dijamin, kerajaan damai dan aman. Ini terjadi ketika raja sedang kuat. Ketika melihat hawa nafsu berusaha melakukan kudeta terhadap raja dengan kepentingan buruk, dia akan dengan tegas berkata, “Hei kamu, Diam ! Aku raja, kamu tentara. Jadi kamu yang harus patuh padaku. Lakukan tugasmu sebagai tentara.”  Hawa nafsu pun akan kembali taat, “Ya Tuan, maafkan aku. Aku akan kembali bertugas.”

Berbeda halnya ketika raja sedang melemah dan hawa nafsu berkuasa. Dia membawa kepentingan syaithan yang tidak sesuai fitrah manusia, jelas-jelas menyimpang dari visi misi awal kerajaan tubuh, yaitu beribadah pada Allah. Kerajaan akan terus kacau selama raja masih lemah karena dia belum bisa bertugas. Maksiat akan terus dilakukan. Raja juga bisa tertidur atau bahkan mati (hati yang dikunci mati karena saking bebalnya, menolak hidayah Allah). Sayangnya tidak banyak manusia yang menyadari bahwa raja di dalam dirinya sedang tertidur.


Raja yang tertidur masih bisa bangun. Seberapa lama ia tidur bergantung pada kualitas manusia itu sendiri. Ketika raja terbangun, ia akan langsung mengambil alih kerajaan dari hawa nafsu yang mengacau. Manusia yang bermaksiat pun akan menyesal, beristighfar, melakukan muhasabah. Inilah manusia yang hatinya memimpin kerajaan tubuh. Dia berhasil memimpin dirinya !

Senin, 19 Mei 2014

Jangan sombong

“Selamat  yaa.. Lo juara 1 di kelas ini.”

“Ya nih. Dah pinter pelajaran, pinter buat puisi pula. Kreatif !”

Aku baca komentar temen-temenku di Facebook. Langsung saja, saat itu juga… jantungku berdetak kencang. Mulutku menyunggingkan senyum. Dalam pikiranku, aku berkata, “Diriku memang hebat. Aku bangga dengan semua kemampuanku !”

“Eittts. Jangan lebay dulu. Jangan bangga berlebihan.”

Itu suara yang sudah sangat aku kenal. Suara yang tidak pernah terdengar telinga, tapi sangat jelas. Ini bukan halusinasi ataupun ilusi. Suara itu memang nyata. Aku dengarkan perkataan dia, hati.

“Ingat ingat ingat. Semua yang kamu punya itu, berasal dari Allah. Seharusnya kamu bersyukur.”
Aku diam, mendengarkan kata hatiku. Belum mengerti, pikiranku bertanya, “Aku belum paham. Logikanya terlalu lompat. Apa maksudmu, hati ?”

“Lupakah dirimu ? Allah Maha Mengetahui, Dia yang punya semua ilmu. Lihat saja karya-Nya yang sehari-hari kamu baca, Al-qur’an. Indah bukan ? Dia jauh lebih kreatif dari dirimu ! Kamu hanya diberikan sebagian kecil ilmu-Nya dan sifat kreatif-Nya. Hasilnya, kamu jadi juara satu di kelas dan pandai membuat puisi. Bersyukurlah… Dia mengizinkan kamu untuk menerima sebagian kecil sifatnya.”

Kini, aku paham. Tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Sekeras-kerasnya aku belajar, serajin-rajinnya aku menulis puisi hingga aku pandai, izin-Nya tetap berlaku. Keadaanku seperti inilah juga berkat kehendak-Nya.  Ilmu itu cahaya Allah, bukan sekedar hasil pemikiranku sebagai manusia yang miskin ilmu.


Terima kasih hati, sudah mengingatkanku : )