Jumat, 03 Februari 2012

Nyontek ? Ga usah !


Aku: “Kenapa dulu kamu beli jawaban buat UN ?”

Si X: “Biar praktis, ga perlu mikir panjang buat dapet jawaban.”

Aku: “Dasar, males mikir. Ga nyesel apa gimana ?”

Si X: “Allah kan maha Pengampun... hehe”

Aku: (hati dongkol setengah mati)

“GR banget... Kamu sendiri serius tobat ga sih ? Emangnya ada jaminan Allah bener-bener mengampunimu ? Ya sih.. Allah emang maha Pengampun, Dia mengampuni orang-orang yang dikehendaki-Nya.”

***

Itu bukan dialog yang sebenarnya, tapi itu berdasarkan pengalamanku sendiri. Ada cerita lain. Aku dapet kabar juga dari temen se SMA, sebut saja namanya “Si N”. Dia itu satu-satunya siswa di kelasnya yang ga beli jawaban UN. Si N itu siswa terjujur di kelasnya... Subhanallah ! Cerita lain... Aku pernah diminta oleh teman se-ruangan UN untuk bantu ngerjain salah satu soal ujian. Katanya, “Help me Riz.” Tentu saja, aku hanya membalas, “Emoh...”. Aku mikir, sepertinya contek-mencontek dah jadi hal biasa, namun terselubung. Coba kalau dilihat lebih jauh lagi. Ingat masa SMA, baca berita, dengar sana-sini... Banyak anak yang mencontek, bahkan di saat ujian. Ngenes banget tho...

Ada kabar yang lebih parah lagi. Ini hanya berdasarkan informasi dari teman. Seorang guru penjaga ruang Ujian Nasional (UN) justru membantu siswa melakukan kecurangan. Supaya lebih jelas, seperti ini ceritanya (bukan yang sebenarnya, namun kurang lebih yang ada di benakku seperti itu.)

Siswa A: (tengok kanan-kiri dengan maksud mencari jawaban)

Pak B: (diam-diam memperhatikan)

Siswa A: (semakin berambisi melihat jawaban sebelahnya, siswa C)

Pak B: (Sambil mendekati siswa C) “Bantuin temennya tuh, biar dia bisa ngerjain”

***

Wagu tenan kii. Masa guru jaga yang jelas-jelas dipilih dari sekolah lain untuk menjaga ketertiban kelas selama UN, justru membantu peserta UN berbuat kecurangan. Semakin jelas bahwa contek-mencontek dah jadi wabah penyakit.

Yang pengen aku sampaikan di sini adalah, JANGAN TIRU MEREKA. Apapun alasannya, mencontek saat ujian itu ga baik. Bantu teman, menyenangkan orang tua karena nilai bagus, Emang terdengar sulit ya, bagi orang yang sudah terbiasa mencontek, apalagi orang yang mencontek itu berada di lingkungan orang-orang yang juga terbiasa mencontek.

Kenapa aku berani pake caps lock ? Aku punya beberapa alasan kalo mencontek itu ga baik.

1. 1. Ga ada kepuasan batin ketika kita dapet hasil yang bagus

2. 2. Membuat si pencontek semakin bodo karena dia males mikir

3. 3. Bisa menumbuhkan bakat mencuri karena mencontek itu kan mengambil jawaban yang bukan miliknya (di waktu yang ga tepat, beda kl nyonteknya pas lagi belajar kelompok)

Mungkin ada alasan-alasan lain yang belum terpikirkan, boleh menambahkan kalau ada. Sebenernya, ada alternatif yang lebih baik daripada mencontek punya orang lain, yaitu mencontek jawaban punya sendiri. “Jawaban” itu berupa memori dari hasil belajar di waktu sebelum ujian. “Jawaban” itu terekam di otak. Lebih baik kalau “jawaban” itu dibuat jauh hari sebelum hari H ujian, maksudnya, belajarnya jangan dadakan dan diulang-ulang. Itu akan membuat “jawaban” tersimpan di arsip penyimpanan jangka panjang. Sebaliknya, kalau jawaban baru dibuat dan masih segar, bakal tersimpan di dalam arsip penyimpanan jangka pendek. Semua hal di arsip itu ga tahan lama.

Itu sekedar tips yang mudah-mudahan membantu kita semua dalam belajar, supaya punya bekal yang cukup untuk menghadapi ujian, supaya ga perlu mengambil jawaban punya sebelah.

Khususnya buat adek-adekku yang sebentar lagi ujian, terus belajar & berdo’a supaya ingat kalo Allah selalu menemani. Kalo gitu, yang awalnya mau nyontek ga jadi nyontek deh... :)

Selasa, 24 Januari 2012

Piring Bersih

Selesai makan siang di meja makan restoran...

Dua orang sahabat, yaitu Anita dan Saka telah selesaikan makan siang. Setelah asik dengan makanannya, Anita terheran-heran melihat piring putih Saka yang bersih seperti sebelum dipakai, padahal sudah jelas Saka makan di piring putih itu.

Tak tahan dengan rasa penasarannya, Anita bertanya, “Gila.. Itu piring abis dicuci atau belum dipake? Bersih banget perasaan !”

Saka, “Kayak ga kenal gue aja. Dari dulu gue juga dah gini, makan sampe bersih, ga ada sisanya.” Lalu Saka melihat piring Anita yang menurutnya belum bersih, terdapat sedikit daging ayam yang masih melekat di tulangnya, beberapa butir nasi yang tergeletak di piring, serta bayem yang tidak tersentuh mulut sama sekali. “Kalo gue jadi lo, itu piring gue bersihin. Masih ada makanan yang sebenernya bisa dimakan. Itu bayem kenapa ga lo makan ?”

Anita, “Ga suka sayur. Hehe”

Saka, “Boleh gue makan ?”

Anita, “Boleh.. boleh..”

Anita menatap Saka dengan tatapan terkagum-kagum. Dalam benaknya, dia berkata, “Temen gue bener-bener sayang makanan nih. Ga kayak gue yang…”

Tiba-tiba Saka telah selesai makan dan berdo’a. “Selesai ! Yuk, pulang..”

Anita, “Tunggu dulu lah.. Nurunin dulu nih, makanan. Kenyang banget nih.”

Saka, “Abis.. lo beli makan kebanyakan. Mending kalo beli dikira-kira sama kemampuan makan lo, biar ga kekenyangan ato sisa. Gue beli makan segini karna gue yakin bakal abis.”

Anita, ”Oh.. gitu ya. Trus, apa lo ga kenyang, masih mau juga ngabisin sayur gue ?”

Saka, “Seriusan. Gue rela kalo perut gue jadi tong sampah buat makanan yang masih bisa dimakan daripada makanan itu masuk tong sampah beneran !”

Anita semakin heran, “Segitunya sih… Gue sih, kalo emang ga suka.. ya sudah, buang aja.”

Saka, ”huff. Gue diajarkan buat bersyukur. Apa pun yang disediakan di meja makan keluarga, harus dimakan. Makanya, lo liat keluarga gue keliatan bugar kan ? hahaha.”

Anita, “Berarti, sekeluarga abis makan piringnya selalu bersih semua ya ?

Saka, “Ga juga, kalo ada tulang, kita ga bakal makan itu tulang lah.”

Anita, “Yaiyalah. Semua orang juga bakal gitu… Bandingin deh. Di piring gue, masih ada beberapa nasi yang tersisa. Di piring lo, ga ada sama sekali ! Keren… Katanya, kita ga boleh mubadzir, tapi ga segitunya menurutku..”

Saka, “Ya.. Diusahakan kita makan semuanya. Mungkin, beberapa butir nasi yang tersisa dalam satu kali makan ga kehitung… ga kerasa jumlahnya, tapi bayangin deh. Buat orang-orang yang biasa ga habis makanannya, gimana kalo dalam sehari, seminggu, sebulan ? Akumulasinya ?”

Anita,” hmm… Banyak”

Saka, “Ga banyak, tapi ga kehitung ! Menurut gue, itu sama aja kayak mubadzir versi nyicil. Mungkin aja, orang-orang yang ga mampu beli makan berpikir bahwa sisa-sisa nasi di piring itu bener-bener berharga lho.”

Anita, “Pantesan… Lo makan kayak ga makan aja. Abis piring lo bersih banget, kayak abis dicuci.”

Saka, “ Kayak abis dicuci ? Ga kali… Kalo bersih, ya. Hehehe. Eh, makanan di perut lo dah turun kan ? Tuh, bersihin piring lo. Sini, gue bantu..”

Saka sudah memegang sendok Anita untuk “menyendoki” sisa-sisa makanan. Namun, Anita langsung menyadari tindakan temannya itu, lalu dia merebut sendoknya dari genggaman Saka.

Anita, “Udah.. udah… Gue juga bisa nglakuin itu sendiri. Bener juga kata lo… Makasih ya, buat pencerahannya.” Anita pun membersihkan makanannya hingga bersih.

Saka, “Ya.. sama-sama. Inget-inget aja… Ada berkah di akhir makanan ”

Anita, “ Oh ya.. itu hadits kan..”

Saka, “Tepat ! Sebenernya ajaran Islam tuh bagus lho.. Ga cuma buat diinget, tapi diimplementasikan. Gitchuu.”

Anita, “Ok ok..Ayo, kita pulang… Eh, hampir aja lupa. Berdo’a dulu denk.”

Setelah mereka berdo’a, mereka melangkah keluar restoran untuk kembali ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan, mereka melihat piring-piring yang sangat kotor di meja di sebuah restoran. Seorang pelayan restoran membuang sisa makanan di piring itu. Melihat itu, Saka miris. Begitu juga dengan Anita ketika mereka melihat fenomena itu terjadi di berbagai restoran yang mereka lewati.

Saat itu juga, masing-masing dari mereka membawa oleh-oleh selain rasa kenyang. Anita mendapatkan penyegaran pikiran dalam hal makan. Saka membawa pengetahuan baru tentang sebuah kenyataan: muabdzir masih menjadi tren, terlepas itu disadari atau ga.


***

Sabtu, 07 Januari 2012

Sampah, sampah, sampah !!!

Aku dalam perjalanan dari Pasar Rebo menuju Depok...

Sore itu rasanya melelahkan sekali. Aku & temanku, Cibe “berkelana” di Pasar Senin sebagai bagian dari pusat Kota edan ini (Jakarta maksudnya.. hehe). Kenapa aku sebut “edan.” Situasi di tempat umum di kota Jakarta terlihat edan bagiku: macet, banyak orang yang tidak sabaran (contoh: dikit-dikit membunyikan klakson), sering terdengar umpatan orang, dll.

Terlepas dari sifat edan tersebut. Aku mau cerita pengalamanku di angkot rute Pasar Rebo- Depok. Alhamdulillah, kami mendapatkan angkot yang ga terlalu penuh. Aku juga bisa dapet tempat duduk yang sebelah kanan & kiri sama-sama perempuan (jujur, aku risih kalau harus dempetan sama laki-laki). Seperi biasa, mataku sering ke sana kemari melihat penumpang, bukan maksud menatap mereka untuk kepo terhadap hal-hal yang mereka bicarakan, tapi aku ingin sekedar melihat fenomena yang ada karena siapa tahu aku mendapat suatu pelajaran baru.
Tak disangka... Benar, aku mendapatkan pelajaran baru. Di seberangku, ada dua ibu-ibu yang mengobrol. Salah salah satunya mengeluarkan salak. Sudah pasti beliau ingin membuka lalu memakannya. Aku terus memperhatikan mereka. Bukan percakapan mereka yang menjadi fokusku, tapi tindakan yang ... (sulit menjelaskannya dengan kata-kata karena emosiku campur aduk)

Biar ga bingung, pake label saja. Ibu yang memegang salak (ibu A) dan temannya (ibu B). Ibu A membuka salak. Beliau berkata, “Ga ada biaya buat bersihin sampah” sambil membuang kulit salak yang telah terkupas. Ibu A melakukan tindakan tersebut sambil mengobrol dengan ibu B, tertawa, tanpa rasa bersalah.

Ibu A dengan muka santai seperti itu, sementara aku di seberangnya dengan muka dongkol, jelek, cemberut. Memang aku ga bawa kaca untuk lihat mukaku, tapi itu menggambarkan betapa sedih, sebel, dan kecewanya diriku. Tiba-tiba, perang batin dimulai. Jangan heran ya.. Ini sering sekali terjadi. Ketiga tokoh yang berdialog di bawah ini sama-sama terdapat dalam pikiranku, hanya saja mungkin penamaannya salah.


Superego: “Cepet, tawarin ibunya tisu atau plastik buat tempat sampah !”

“Setan”: (Datang dengan tiba-tiba, secara halus, bahkan pemilik pikiran tidak sadar)” Jangan Rizka, kalau kamu negur ibu itu nanti kamu dibilang sok bersih. Ga usah bilang lah, diem aja.”

Ego: (bingung, galau, belum bisa memutuskan)

Aku hanya bisa memasang muka jelek, tanpa diketahui kedua ibu tersebut. Masih berlarut-larut dengan kekecewaan.

Superego: “Ayolah Rizka, tugas sesama adalah saling mengingatkan.”

Ego: “Ya juga sih.. Kalau ibunya ga ditegur, mungkin selamanya ga bakal sadar kalau itu salah”

“Setan”: “Rizka.. Rizka... kamu tuh orang yang lemah, ga bakal bisa ngomong asertif”


Akhirnya, “setan” lebih kuat. Aku menyesal. Sungguh menyesal. Rasanya, pengen marah sama diri sendiri. Pengen jedug-jedug in kepala *lebai. Kenapa aku ga bisa mengikuti kata superego ? Aku bisa membuat beliau tersadar, atau lebih ekstrimnya, malu.

BAYANGKAN. Itu baru satu orang. Aku yakin, di luar lingkungan itu masih banyak orang yang berbuat seperti itu. Aku prihatin melihatnya. Kenapa orang pada males buang sampah di tempat sampah sih ? Apa gunanya tempat sampah ? Apa mereka ga memikirkan lingkungan yang semakin jorok, bawa-bawa penyakit, berujung pada mati secara ga terhormat ? MALAS kah yang jadi penyebab utamanya ?

Aku bisa membayangkan, bagaimana anak dari orang-orang seperti itu. Yang namanya anak kecil, pasti ga beda jauh dari orang tuanya. Ingat teori modeling kan ? Di bukunya, Wittig (lupa tahun berapa), menyebutkan modeling melibatkan observasi pola untuk berperilaku, lalu diikuti dengan tingkah laku yang sama atau mirip. Orang tua bisa jadi model bagi anak. Salah satu teori modeling adalah social learning yang menekankan pada peran yang dimainkan melalui hubungan interpersonal. Berarti, orang tua yang jorok (suka buang sampah sembarangan) cenderung punya anak yang jorok juga. Kecenderungannya begitu, kecuali kalau anak itu tobat dan sadar akan lingkungan ketika sudah besar, mengingat model bukan hanya orang tua.

Anak yang jorok punya anak lagi yang juga jorok. Duh duh... jadi generasi jorok nih bisa-bisa. Ga heran ya... tempat umum di Indonesia jarang banget yang bersih kecuali kalau ada orang yang digaji untuk membersihkan. Itu sepengalamanku sih.

Kembali ke pelajaran. Apa saja yang bisa diambil dari cerita ini ?
1. Buat diriku pribadi: asertif
2. Buat semuanya, jangan buang sampah sembarangan ya.


Semoga bermanfaat & bisa dipahami :)


Keterangan:

Di bagian dialog, kan ada istilah "superego" & "ego". Itu dicetuskan oleh tokoh psikoanalisis yang bernama Sigmund Freud. Freud menyatakan bahwa tingkatan mental ada dua: ketidaksadaran (unconscious) & kesadaran (conscious). Selain dua komponen itu, ada juga "daerah" pikiran: id, ego, & superego. Id berada dalam kawasan ketidaksadaran dan menekankan pada prinsip kesenangan. Kalau di dialog tadi, ga bisa diterapkan. Konsep "id" mirip dengan "hawa nafsu manusia". Superego adalah semacam hati nurani. Makanya, di contohnya, superego berperan untuk mendorong Rizka berbuat baik. Terakhir: ego. Itu bertugas sebagai pengambil keputusan dalam bertindak. Ego adalah diri yang berinteraksi dengan dunia di luar diri.


Sumber:
- Wittig, A. F. Psychology of Learning
- Feist, J. & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (11th ed.). New York: McGraw-Hill.



Senin, 24 Oktober 2011

Aku di Sini Mempelajari Psikologi, untuk Negeri yang Kusayangi

Sudah lama aku ga nulis. Maklum, semakin naik tingkat semakin sibuk (harusnya itu bukan jadi alasan untuk ga nulis.) :p

Kali ini, aku mau cerita ringan tentang hal akademis. Ya, aku sebagai mahasiswi psikologi. Sebelum nulis lebih jauh... bahas dulu apa sebenarnya psikologi itu ? Psikologi kalau dilihat secara etimologis (arti kata), artinya adalah ilmu tentang jiwa. Itu yang aku tau sebelum mempelajari psikologi. Tapi, setelah masuk sebagai orang yang mempelajari ilmu itu, aku punya persepsi lain tentang definisi itu. Salah satu dosenku bilang kalau psikologi itu adalah ilmu tentang tingkah laku. Nyadar juga. Kalau baca program studi di universitas, psikologi itu termasuk fakultas "Social and Behavioral Science."

Sempat heran, kenapa kok tentang tingkah laku ? Bukan tentang jiwa itu sendiri ? Bayangkan saja. Jiwa itu seperti apa. Tidak bisa dilihat, dipegang, diperlakukan secara fisik. Sedangkan tingkah laku bisa diamati. Tingkah laku, seperti bagaimana seseorang tidur, berbicara, makan, belajar, dan apa saja yang dilakukan manusia, selalu bisa diamati. Makanya, tingkah laku dijadikan pembahasan. Kalau jiwa dijadikan pembahasan pokok, psikologi nggak jadi sains. Yang namanya sains itu, haurs dibuktikan melalui metode ilmiah (dari mengangkat permasalahan sampai pada kesimpulan). Yang namanya metode ilmiah itu harus objektif, empiris, & publik (Graveter & Forzano, 2009)

Cukup tentang apa itu psikologi. Sekarang, cabang-cabangnya. Dulu, aku berpikiran kalau psikologi itu cuma berkaitan dengan rumah sakit jiwa, psikolog, & HRD. Ternyata, anggapan itu salah. Psikologi membahas berbagai macam hal. Jangan heran ternyata ada lho.. psikologi militer, olahraga, politik ^ ^. Di kampusku, ada 5 peminatan: klinis, perkembangan, industri organisasi, sosial, & pendidikan.

Kalau ngomongin psikologi klinis, bayangin aja psikolog, konseling, rumah sakit jiwa, abnormalitas pada mental. Psikologi perkembangan, sesuai dengan namanya, mempelajari perkembangan manusia dari keluarnya telur dari indung telur ibu, sampai orang yang dilahirkan itu pada akhirnya mati. Tapi, peminatan itu lebih menekankan pada perkembangan anak (boleh tanya kenapa kl pengen tau). Psikologi Industri Organisasi... jujur, aku ga minat sama ini walaupun cari kerjanya gampang. Itu membahas psikologi dalam konteks industri & organisasi. Bayangkan saja, HRD perusahaan. Kalau psikologi sosial, cakupannya luas banget. Itu beda sama sosiologi. Sosiologi membahas masyarakat, psikologi sosial membahas pengalaman & perilaku individu dalam konteks sosial (Sherif & Muzler, 1956 dalam Sarwono & Meinarno, 2009). Yang bakal dibahas di bidang ini contohnya interaksi sosial & persepsi sosial. Yang terakhir (kesukaanku): psikologi pendidikan. Bayangkan saja, menteri pendidikan, peneliti, penyusun kurikulum. Aku lebih condong sama bidang ini nih.

Psikologi pendidikan, salah satu pilihanku. Kenapa ? Alasannya mungkin sepele. Aku pernah bantuin adikku ngerjain PRnya. Dia masih kelas 1 SD, tapi soal yang harus dikerjakan itu seperti ini. Sebutkan makanan yang mengandung karbohidrat. arghhh. Aku ga trima ! Pemikiran anak seumuran dia belum sampai ke tahap yang abstrak. Menurut teori Jean Piaget, anak umur 6 tahun belum bisa mikir hal abstrak, bisanya yang konkret. Ga cuma itu. Nyadar ga sih, kita tuh belajar banyak banget mata pelajaran pas kita masih sekolah. Ga peduli bakat & minat, semua anak harus belajar matematika, bahasa indonesia, fisika, biologi, sosiologi, kimia, sejarah (kl ini perlu sih menurutku). Semuanya dipelajari sampai mendalam. Trus, pas mulai kuliah ga semuanya dipake. Apa maksudnya ? Kenapa kita harus belajar semua itu ?

Itu beberapa alasan aku tertarik sama psikologi pendidikan. Menurutku, sistem pendidikan di Indonesia itu hancur. Idealnya, anak mempelajari sesuatu sesuai dengan tahap perkembangannya yg ga terlalu susah, gampang, bikin stres, atau membosankan (Bredekamp, 2011 dalam Santrock, 2011). Mungkin, gara-gara anak kecil dibiasakan mempelajari yang susah-susah walaupun ga suka sama pelajaran itu, anak-anak berorientasi sama nilai. Pantes, di sekolahku aja UN banyak yang beli jawaban. Memalukan !

Aku terlalu banyak ngomong nih. Percuma kalau ga ada realisasi. Kalau tetap sama pendirianku, aku pengen konsisten sama minatku. Aku pengen sistem pendidikan Indonesia jadi lebih baik. Kalau pendidikan baik, orang yang dididik bisa sukses di bidang masing-masing tanpa paksaan. Mungkin itu terdengar gombal karena cita-cita itu sangatlah besar. Tapi, sekarang aku masih hidup, berarti aku masih punya tugas & kesempatan. Mungkin itu salah satu tugasku. Do'akan aku yaa :)


Jumat, 26 Agustus 2011

Sekarang atau nanti ya ? Sekaraaang !

Universitas Bhineka Tunggal Ika, sebuah universitas yang plural. Fakultas-fakultas di dalamnya mempunyai civitas dengan karakteristik masing-masing secara umum.

Ada fakultas "Empat Sehat Lima Sempurna" yang dominasinya adalah orang-orang yang bersih karena mereka berprinsip bahwa kebersian adalah sebagian dari iman. Ada fakultas "ABC" dengan prinsip humanisme mereka kental dan mencintai karya-karya manusia. Fakultas "123" yang berisi orang-orang beriman dan berilmu. Ada pula fakultas “Merah ngejreng” yang berusaha menegakkan keadilan.

Yang satu ini, fakultas Mudamudabir, fakultas yang diam-diam sekuler. Tidak banyak orang yang tau bahwa fakultas itu sekuler. Sebagian orang merasa bahagia dengan lingkungan itu karena mereka bisa cenderung bebas untuk berhura-hura.

Sedang sebagian lain merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut karena kadang ruhiyah tidak terfasilitasi dengan baik.

Ada pula yang tidak nyaman secara ruhiyah, namun tetap bersyukur. Ya, bersyukur karena dapat merasakan lingkungan yang menggoncang iman dan menghentak pikiran, namun juga ada kawan-kawan sebagai penopangnya bagaikan jangkar yang membuat kapal tenang di tengah gelombang besar.

Seperti halnya kisah Trini dalam cerita ini. Semoga menginspirasi...

Di sebuah kelas, duduklah 20 siswa yang sedang asik berdiskusi dengan dosen yang sudah ahli. Maklum, lulusan University of Tokyo.

Dialah Mr. Hwanatabe, dosen baru di fakultas Mudamudabir yang berasal dari Jepang. Meski logat Jepangnya masih kental, dia dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Bahkan, Gaya bicaranya memukau hingga orang-orang yang mendengarnya tidak ingin mengalihkan perhatian.

Dia bicara, semua mendengarkan. Ke mana dia berjalan, kedua mata orang yang melihat mengikutinya.

Ilmu yang diajarkannya juga banyak diminati orang dan termasuk langka, memang beruntung 20 orang yang bisa masuk di kelas itu. Rasanya sayang jika diskusi mereka dipotong.

Kebanyakan mahasiswa berpkiran seperti itu, tapi tidak semuanya. Trini, salah satu pendengar baik di kelasnya, berpikiran bahwa dia memang keren, tapi tentu diskusi ini tidak akan berlangsung hingga sehari,

harus ada yang rela interupsi karena sebentar lagi Jum'atan bagi muslim.

Diskusi makin asik. Ada 1 orang yang bertanya, Mr. Hwanatabe menjawab. Lalu disusul dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

Trini hanya berbicara dalam hati, "Parah... bentar lagi Jum'atan, tapi belum ada yang siap-siap."

Waktu untuk Jum'atan sudah hampir tiba. Masih belum ada yang interupsi atau mempersilakan untuk Jum'atan. Semua tampak tidak peduli ! Padahal waktu itu pendek.

Walau Trini bukan orang yang wajib untuk ikut Jum'atan, tetap saja dia khawatir.

Bahkan perasaan khawatir Trini makin tinggi. Matanya sering tertuju pada jam tangan Lyly, teman sebelahnya. Pikirannya semakin tidak fokus pada diskusi kelas.

Makin dekat jarum panjang ke angka 12, makin khawatir dia karena belum ada tanda dari teman-temannya yang bakal Jum'atan.

Rasa syukur sedikit demi sedikit mulai muncul. Trini melihat Wawan & Rudi, dua orang yang duduk di depannya, saling berbicara. Tampak dari wajah Wawan yang was was, sambil meminta tolong Rudi untuk interupsi krn saat itu sudah mendekati waktu Jum'atan.

Sayangnya, permintaan Wawan tidak dilaksanakan: Rudi tidak langsung interupsi karena dia ragu.

Trini hanya berbicara dalam pikirannya, "Andai aku berani, aku bakal interupsi walau aku sebagai wanita tidak berkewajiban untuk mengikuti ritual ibadah itu. Tapi, sayangnya aku tidak berani."

Jarum panjang semakin mendekati angka 12. Wawan makin terlihat khawatir, namun masih ragu untuk interupsi.

Tiba-tiba, sebuah kejadian yang tidak diprediksi sebelumnya terjadi.

Dodon, seorang teman yang duduk di dekat dinding, langsung berdiri.

Tanpa berucap, dia membawa tasnya dan berjalan ke luar pintu.

Dodon diikuti oleh semua mahasiswa muslim yang wajib dan akan Jum'atan.

Wawan dan Rudi terlihat senang.

Wawan berjalan sambil bergumam, "Makasih Don, lo dah wakilin Rudi buat nglakuin permintaan gue."

Trini yang melihat kejadian itu tentu saja senang. Keraguan kolektif dapat terpecahkan oleh satu kemantapan.

Mr. Hwanatabe berhenti sejenak sambil melihat mereka keluar lewat pintu.

Lalu dia berkata, "Bagi yg mau pergi untuk berdo'a, silakan."

Setelah mereka semua keluar, diskusi dilanjutkan kembali.

Rasa khawatir Trini tergantikan oleh rasa syukur. Dia dapat menikmati diskusi lagi hingga berakhir.

Selesai kelas..

Trini melihat Dodon, Wawan, & Rudi berkumpul di depan kelas. Mereka kira diskusi masih berlanjut setelah selesai Jum'atan.

Rudi bertanya pada Trini, "Eh, gimana tadi diskusi sama Mr. Hwanatabe ?"

"Seru banget. Sayang banget, kalian ga denger semuanya. Tapi, gue salut banget sama Dodon ! Gue sempet khawatir tadi tuh.."

Dodon," Subhanallah... Ternyata ga cuma gue yang awalnya khawatir kalo kita ga bisa Jum'atan. Masa cuma gara-gara diskusi yang seru, kita lewatin kewajiban sih."

Wawan, " Gue juga khawatir banget don, tapi ga berani interupsi."

Trini, "Ya, keliatan banget dari muka lo yang keliatan was was."

Rudi, "Oh ya Don, kok lo bisa nekad gitu sih. Ga mikir gimana jadinya kalo Mr. Hawanatabe marah gara-gara ada yang nyelonong keluar ?"

Dodon, "Gue sih berusaha pegang prinsip. Kalo panggilan sholat itu dateng, gue bakal siap-siap. Makanya tadi gue langsung pergi tanpa izin."

Trini, "Wow, Gimana kalo dosennya tersinggung ?"

Wawan, "Nyatanya ga kan ? Malah bilang 'silakan'."

Dodon, "Tersinggung ato ga, gue ga peduli. Yang penting, kita bisa Jum'atan"

Rudi, "setuju ! Ga kebayang kalo ga ada yang senekad Dodon tadi, apalagi tadi gue sama Wawan ga berani izin, cuma bisa ngedumel doank..."

Wawan, "Bisa bisa kita ga jadi Jum'atan parahnya."

Wawan melihat Mr. Hwanatabe berjalan jauh di depan mereka.

"Eh itu dia dosen kita. Jadi kan, mau ngomongin yang tadi ?"

Rudi & Dodon, "Jadiiii !"

Dodon, "Trini, kita duluan ya... Assalamu'alaikum !"

Trini," Sip.. Wa'alaikumussalam."

Tetap bersyukur karena punya teman seperti mereka, bagaikan jangkar yang membuat kapal tenang di tengah gelombang besar.

Ini salah satunya yang membuat dia tetap bertahan di fakultas Mudamudabir dengan lingkungan yang menggoncang iman dan menghentak pikiran.

Kamis, 28 Juli 2011

Yang Nyaris Terlupakan: Hukum Waris

Yang Nyaris Terlupakan: Hukum Waris



Ini kisah pengalamanku saat aku dalam perjalanan dari bandara ke Pasar Minggu. Aku duduk dalam bis yang melaju dan sebenarnya membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai tujuan, namun tidak terasa lama karena aku duduk di sebelah seorang ibu yang umurnya sekitar 40 tahun (taksiranku).


Posisiku saat itu benar-benar membuka mataku. Aku yang sebelumnya sempat mengantuk, jadi tidak mengantuk lagi. Apa yang membuat aku sampai seperti itu ?


Berawal dari senyumanku yang mengarah ke ibu itu. Beliau membalas senyumanku dengan cerita yang panjang lebar. Perbincangan sangat asik, padahal kami tidak saling mengenal, bahkan kami lupa saling menanyakan nama. Cerita awal adalah tentang perawatan gigi, kemudian… Aku lupa, bagaimana alur perbincangan kami sampai pada “warisan keluarga.”


Ini bukan dialog asli (memoriku ga sempurna, yang ada di otak bukan jiplakan dari aslinya).


Ibu X: ”Saya punya keluarga jauh. Ada Bapak, ibu, 1 orang anak perempuan, sama anak laki-laki. Bapak itu meninggal. Masak, anak perempuannya nangis. Nangisin masalah warisan.”

Aku: “Ha ? Kenapa ?”

Ibu X: “Dia tanya, ‘bagianku sama masku rata kan?’ Dia ngomong gitu sambil nangis.”


Itu sebenarnya baru salah satu percakapan tentang warisan, ada yang lain juga, tapi aku lupa alur, tokoh, & permasalahanny bagaimana. Yang jelas, cerita-cerita tentan warisan dari ibu itu mempunyai kesan bahwa: sepertinya orang Indonesia mulai tidak peduli dengan hukum waris menurut agama Islam. Mungkin ini cara penarikan kesimpulan yang terburu-buru, itu hanya asumsiku saja.


Cuplikan dialog lain (bukan aslinya)


Aku: “Padahal, sebaiknya kan pembagian warisan itu berlaku kalau bapaknya meninggal. Anak laki-laki dapet 2 bagian, yang perempuan 1 bagian. Itu menurut hukum Islam.”

Ibu X: “Ya, di Al-Qur’an ada….”


Alhamdulillah, ibu itu mengerti. Kami punya pandangan yang sama tentang hukum waris.

Aku berpikir… Orang jaman sekarang kok tambah maruk (serakah). Harta orang tua pun yang meninggal ingin dimiliki dalam jumlah yang banyak. Tanpa pandang aturan, apalagi aturan dalam al-qur’an. Ini menandakan bahwa hukum waris akan semakin dilupakan. Memang hukum waris menurut agama Islam dapat dibilang banyak kategorinya, bahkan mungkin dianggap ribet.


Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak wanita, dan jika anak itu semuanya wanita lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan jika anak wanita itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta.Dan untuk dua orang ibu/bapak,bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan; jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya(saja) maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, pembagian tersebut diatas sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya, (tentang orang tuamu dan anak-anakmu), kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa ayat 11)


Mungkin, orang berpikir bahwa aturan itu akan sulit diterapkan.. Tapi percayalah, Allah maha adil. Contoh… Mengapa anak laki-alki dapat 2 bagian lebih banyak daripada anak perempuan ? Itu karena laki-laki adalah pencari nafkah utama dalam keluarganya. Wajar, dia lebih dapat lebih banyak. Pemikiran seperti itu tidak ada pada otak orang-orang maruk. Ternyata, hukum waris Islam memang menjadi pertama yang dilupakan.


“Pelajarilah Faroidh* dan ajarkanlah kepada semua manusia, karena Faroidh adalah separuh dari ilmu dan akan dilupakan. Faroidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari ummatku.” (HR Ibnu Majah dan Ad-Daroquthni)


Sekian dari aku… Semoga bermanfaat.


*Faroidh= ilmu yang mengatur pembagian harta warisan


Sumber:

- http://media-islam.or.id/2008/02/12/download-program-faroidhhukum-waris-gratis/

- “Kedudukan hukum waris dalam islam” oleh Riana Kesuma Ayu, SH. MH. Diunduh dari

http://websiteayu.com/materi/waris1.pdf pada tanggal 26 Juli 2011

- “Kajian Hukum Islam Terhadap Pembagian Harta Warisan untuk Istri yang Ikut Menangung Beban Ekonomi Keluarga" oleh Noor Azizah, SH. Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/18413/1/NOOR_AZIZAH.pdf pada tanggal 28 Juli 2011

Rabu, 08 September 2010

Mudik ke Jogja !

Baru kali ini Ramadhan benar-benar punya kegiatan yang melelahkan ! Bayangkan : Ospek, tugas, dimarahin, tegang, tugas kuliah, dll. Sampai sekarang masih ada ospek lanjutan dan tugasku belum selesai ! Gpp sih. Ada pengalaman berharga. Aku dapet pengetahuan baru, terutama "Berpikir kritis".

Lupakan tugas ospek untuk sementara. Aku menikmati liburan sambil mengerjakan tugas kuliah dengan santai. Mudik kali ini merupakan mudik yang spesial pula. Aku berangkat sendirian dari Depok ke Jogja. Berangkat sekitar pukul 5 dari kos, naik taksi ke Pasar Minggu, dari sana ke bandara naik Bis Damri. Nunggu lama sih. Pesawat baru take off pukl 10.10. Lebih baik begitu daripada berangkat telat dan ketinggalan pesawat. Sampai Bandara di Jogja, dijemput sekeluarga.
Wuihh... Sampe rumah akhirnya. Alhamdulillah... :) Di Jogja pun aku cuma punya waktu sampai tanggal 10 September karena tanggal 11 kami sekeluarga pergi ke Lampung. Rencana, aku diantar dari Lampung ke Depok.
Huh... Libur yang sangat singkat....