Sabtu, 20 April 2013

Cantik itu...

Di suatu siang di taman Akademos, tempat berkumpulnya para filsuf wanna be. Saat itu, suasana sepi, tinggal Firu dan Disa. Mereka adalah dua teman yang sama-sama seorang pemikir di jaman itu. Bedanya, Firu adalah seorang pemikir yang terkenal karena wajahnya yang cantik, cantiknya bahkan melebihi orang-orang yang didewikan saat itu. Selain itu, dia juga memiliki jabatan penting di kota Mudamudabir. Tiap ada dia lewat, ada hampir semua lelaki melihat ke arahnya. Bukan maksud penulis sok tau, tapi itu adalah salah satu pernyataan dari temannya yang beru dikenal, Disa.  

Disa juga seorang pemikir. Wajahnya pas-pasan, tidak terlalu dikenal, tapi kritisnya luar biasa. Orang-orang yang mengenal dia adalah musuh-musuh dalam perang pemikiran yang terjadi saat itu. Wajar dia banyak musuh karena dia adalah orang yang anti mainstream. Pada dasarnya, dia tidak setuju dengan prinsip demokrasi. “Sungguh aneh. Bagaimana mungkin, sebuah pemerintahan dipimpin oleh banyak orang.” Itu pemikirannya. Pernah suatu saat dia berdiskusi dengan penguasa Kota Mudamudabir yang mengaku sangat demokratis, untuk mempertanyakan jalannya demokrasi di kota ini. Dia punya prinsip yang kuat, tentu saja. Dengan prinsip itu, dia bahkan diusir secara halus dari ruangan penguasa kota setelah mendapat jawaban dari pertanyaan itu.

Itu adalah salah satu kisah Disa. Segala hal dia pertanyakan dan semuanya bisa terjawab walaupun sebagian besar jawaban itu sangat sangat tidak memuaskan. Tapi, ada satu hal yang belum terjawab,  yaitu bagaimana rasanya menjadi orang yang dipandang cantik oleh kebanyakan laki-laki.
Disa bersyukur karena temannya, Firu adalah orang yang cantik. Mulailah dialog antar para pemikir dimulai..

Disa: “Firu, bagaimana rasanya jadi orang cantik ?”
Firu: “Apa yang kamu maksud dengan kata cantik ?”
Disa: “Umum sih. Ketika orang cantik lewat, banyak mata yang melihat”
Firu: “Haha..Sempit sekali definisimu. Tapi okelah, aku jelasin dari perspektifmu. Aku risih ketika dilihat terus-menerus oleh banyak lelaki. Aku mungkin terkenal, tapi aku ngerasa terpenjara dengan mata-mata itu.”
Disa: “Aku tidak mengerti apa maksudmu, Firu”
Firu: “Aku tidak merasa bebas dengan wajah ini. Ini, wajah pemberian Tuhan, yang sementara, justru memenjarakanku. Aku tidak ingin dilihat oleh banyak lelaki karena wajahku seperti ini.”
Disa: “Aku heran, kenapa kamu tidak bersyukur ? Taukah kamu, banyak wanita yang ingin menjadi seperdi dirimu.”
Firu: “Karena dengan wajah ini, aku merasa diikutin oleh mata-mata jahat. Mereka belum merasakan bagaimana menjadi seorang  dengan wajah seperti ini.”
Disa: “Ok,Bagaimana rasanya ?”
Firu: “Bisakah kau bayangkan ? Tiap hari, aku didatangi oleh orang yang berbeda-beda, tentu dengan cara terhormat. Mereka dengan modus yang elegan mengajakku berdiskusi. Aku tau, mana yang sungguh-sungguh ingin berdiskusi, mana yang hanya ingin mencari perhatianku. Aku tidak senang sama sekali dengan orang yang sekedar cari perhatian. Ingat, kita adalah pemikir ! jangan habiskan perhatian untuk hal-hal yang tidak penting”

Disa: “Wow.. Baru kali ini aku menemukan wanita yang justru merasa terpenjara dengan wajah cantiknya. Kamu harus diskusi dengan para wanita yang iri padamu.”
Firu: “Sungguh ? Aku pikir rasa risih seperti ini ada pada tiap wanita, tapi mungkin levelnya berbeda-beda. Anyway, aku justru ingin bebas seperti dirimu. Kau selalu memberi perhatian pada hal-hal yang tepat karena hanya ada beberapa pasang mata yang memperhatikanmu. ”
Disa: “Terima kasih kalau begitu... Maaf, aku harus pulang karena hari sudah malam. Kamu juga harus pulang karena mungkin masih ada mata-mata yang jahat. Keadaanmu lebih berbahaya di sini.”
Firu: “Terima kasih sudah mengingatkan. Ya, aku sudah mengantisipasi hal itu. Aku tidak mau menjadi bayang-bayang para pemilik mata-mata jahat itu, dalam angan ataupun mimpi mereka. Aku masih harus di sini untuk menjaga titipan buku-buku teman.”
Disa:”Oke kalau begitu. Senang bertemu denganmu, Firu. Hati-hati. Semoga Tuhan melindungimu dari mata-mata jahat.“
Firu: “Kau hati-hati juga. Kau tidak punya jaminan bebas dari mata-mata jahat.”

Sepanjang jalan menuju rumah inspirasi, Disa memikirkan kata-kata Firu kembali. Betapa tidak enaknya menjadi orang yang didewikan, bahkan lebih dari dewi kata orang-orang. Tiba-tiba, ada pertanyaan lain muncul dalam benaknya, “Apakah orang cantik yang merasa senang ketika banyak orang melihatnya, benar-benar merasa bahagia ?” Disa ingin bertanya pada seseorang, tapi tentu bukan Firu. Semoga esok hari ketika matahari di Kota Mudamudabir bersinar, ada seseorang yang dapat menjawab ini.

Cantik Itu...


Di suatu siang di taman Akademos, tempat berkumpulnya para filsuf wanna be. Saat itu, suasana sepi, tinggal Firu dan Disa. Mereka adalah dua teman yang sama-sama seorang pemikir di jaman itu. Bedanya, Firu adalah seorang pemikir yang terkenal karena wajahnya yang cantik, cantiknya bahkan melebihi orang-orang yang didewikan saat itu. Selain itu, dia juga memiliki jabatan penting di kota Mudamudabir. Tiap ada dia lewat, ada hampir semua lelaki melihat ke arahnya. Bukan maksud penulis sok tau, tapi itu adalah salah satu pernyataan dari temannya yang beru dikenal, Disa.  

Disa juga seorang pemikir. Wajahnya pas-pasan, tidak terlalu dikenal, tapi kritisnya luar biasa. Orang-orang yang mengenal dia adalah musuh-musuh dalam perang pemikiran yang terjadi saat itu. Wajar dia banyak musuh karena dia adalah orang yang anti mainstream. Pada dasarnya, dia tidak setuju dengan prinsip demokrasi. “Sungguh aneh. Bagaimana mungkin, sebuah pemerintahan dipimpin oleh banyak orang.” Itu pemikirannya. Pernah suatu saat dia berdiskusi dengan penguasa Kota Mudamudabir yang mengaku sangat demokratis, untuk mempertanyakan jalannya demokrasi di kota ini. Dia punya prinsip yang kuat, tentu saja. Dengan prinsip itu, dia bahkan diusir secara halus dari ruangan penguasa kota setelah mendapat jawaban dari pertanyaan itu.

Itu adalah salah satu kisah Disa. Segala hal dia pertanyakan dan semuanya bisa terjawab walaupun sebagian besar jawaban itu sangat sangat tidak memuaskan. Tapi, ada satu hal yang belum terjawab,  yaitu bagaimana rasanya menjadi orang yang dipandang cantik oleh kebanyakan laki-laki. 

Disa bersyukur karena temannya, Firu adalah orang yang cantik. Mulailah dialog antar para pemikir dimulai..
Disa: “Firu, bagaimana rasanya jadi orang cantik ?”
Firu: “Apa yang kamu maksud dengan kata cantik ?”
Disa: “Umum sih. Ketika orang cantik lewat, banyak mata yang melihat”
Firu: “Haha..Sempit sekali definisimu. Tapi okelah, aku jelasin dari perspektifmu. Aku risih ketika dilihat terus-menerus oleh banyak lelaki. Aku mungkin terkenal, tapi aku ngerasa terpenjara dengan mata-mata itu.”
Disa: “Aku tidak mengerti apa maksudmu, Firu”
Firu: “Aku tidak merasa bebas dengan wajah ini. Ini, wajah pemberian Tuhan, yang sementara, justru memenjarakanku. Aku tidak ingin dilihat oleh banyak lelaki karena wajahku seperti ini.”
Disa: “Aku heran, kenapa kamu tidak bersyukur ? Taukah kamu, banyak wanita yang ingin menjadi seperdi dirimu.”
Firu: “Karena dengan wajah ini, aku merasa diikutin oleh mata-mata jahat. Mereka belum merasakan bagaimana menjadi seorang  dengan wajah seperti ini.”
Disa: “Ok,Bagaimana rasanya ?”
Firu: “Bisakah kau bayangkan ? Tiap hari, aku didatangi oleh orang yang berbeda-beda, tentu dengan cara terhormat. Mereka dengan modus yang elegan mengajakku berdiskusi. Aku tau, mana yang sungguh-sungguh ingin berdiskusi, mana yang hanya ingin mencari perhatianku. Aku tidak senang sama sekali dengan orang yang sekedar cari perhatian. Ingat, kita adalah pemikir ! jangan habiskan perhatian untuk hal-hal yang tidak penting”
Disa: “Wow.. Baru kali ini aku menemukan wanita yang justru merasa terpenjara dengan wajah cantiknya. Kamu harus diskusi dengan para wanita yang iri padamu.”
Firu: “Sungguh ? Aku pikir rasa risih seperti ini ada pada tiap wanita, tapi mungkin levelnya berbeda-beda. Anyway, aku justru ingin bebas seperti dirimu. Kau selalu memberi perhatian pada hal-hal yang tepat karena hanya ada beberapa pasang mata yang memperhatikanmu. ”
Disa: “Terima kasih kalau begitu... Maaf, aku harus pulang karena hari sudah malam. Kamu juga harus pulang karena mungkin masih ada mata-mata yang jahat. Keadaanmu lebih berbahaya di sini.”
Firu: “Terima kasih sudah mengingatkan. Ya, aku sudah mengantisipasi hal itu. Aku tidak mau menjadi bayang-bayang para pemilik mata-mata jahat itu, dalam angan ataupun mimpi mereka. Aku masih harus di sini untuk menjaga titipan buku-buku teman.”
Disa:”Oke kalau begitu. Senang bertemu denganmu, Firu. Hati-hati. Semoga Tuhan melindungimu dari mata-mata jahat.“
Firu: “Kau hati-hati juga. Kau tidak punya jaminan bebas dari mata-mata jahat.”

Sepanjang jalan menuju rumah inspirasi, Disa memikirkan kata-kata Firu kembali. Betapa tidak enaknya menjadi orang yang didewikan, bahkan lebih dari dewi kata orang-orang. Tiba-tiba, ada pertanyaan lain muncul dalam benaknya, “Apakah orang cantik yang merasa senang ketika banyak orang melihatnya, benar-benar merasa bahagia ?” Disa ingin bertanya pada seseorang, tapi tentu bukan Firu. Semoga esok hari ketika matahari di Kota Mudamudabir bersinar, ada seseorang yang dapat menjawab ini.