Selasa, 13 Oktober 2015

Sedikit tentang Plenary Sesion IconIPsy Sabtu 10 Oktober 2015

Berikut sedikit yang bisa saya sampaikan, dari banyak ilmu yang tersalurkan dalam acara Plenary sesion International Conference of Islamic Psychology. Tulisan ini juga bukan 100% murni apa yang disampaikan, ada sedikit tambahan dari saya :)

Pembicara pertama adalah Prof Rahmatullah Khan yang menyampaikan keynote speech. Beliau menyampaikan konsep raja' & khauf (harap & takut).  Dengan raja' Allah melindungi kita dari apanyang ditakuti, dengan khauf Allah berikan apa yang diharapkan. Kedua hal tersebut perlu ada dan berfungsi secara seimbang agar well-being bisa terwujud.  Kalau terlalu takut, akan muncul distres, rasa bersalah berlebihan. Pembahasan kemudian terfokus pada konsep hope (raja') yang sering dikaitkan dengan positive psychology, sebuah aliran yang menitikberatkan kekuatan manusia. Sayangnya, aliran psikologi tersebut telah tersekularisasi hingga kering dari aspek spiritual dan agama. Padahal, Allah tempat berharap yang terbaik kan ? Tugas kitalah untuk mengembalikannya dalam memandang hope hingga tercipta spiritual well-being juga. 

Berikutnya adalah inti acara yang disampaikan oleh 1. Prof. Robert Frager, Ph.D.; 2. Prof. Dr. Malik Badri; 3. Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Pembicara pertama membahas konsep nafs (jiwa) yang sulit dicari terjemahannya yang tepat dalam bahasa Inggris. Salah satu terjemahannya adalah "ego". Kita perlu memandang ego dalam perspektif Islam. Manusia yang baik adalah yang jiwanya mengendalikan raganya, seperti Budha yang mengendarai gajah sehingga perlu ada transformasi jiwa. Beliau menjelaskan ciri-ciri dari Nafs ammarah bisu' (paling rendah) hingga Nafs Safiyya, sebuah kondisi yang paling sulit dicapai. Semakin tinggi kualitas jiwa, semakin dekat kedudukannya dengan Allah, dan tentu saja perilakunya lebih baik.

Beralih ke pembicara kedua menyampaikan bahwa psikologi tidak bisa lepas dari epistemologi dan etika. Filsafat menjadi dasar, tiap aliran psikologi memiliki aliran filsafat masing-masing. Sayangnya, aliran psikologi yang sudah ada bersifat parsial, tdk bisa memfasilitasi manusia dalam aspek tertentu. Islam memang mengakui aspek jiwa yang hampir tidak dibahas di kajian psikologi barat, namun tidak menafikkan aspek-aspek lain dalam manusia. Bisa kita lihat Al Bakhi yang banyak berbicara tentang kognisi, emosi, perilaku: systematic desentisization, refleksi, perlunya pikiran positif saat sakit, apa yang bisa dilakukan untuk meregulasi amarah, emotional disorder. Dari pemaparan beliau, bisa dilihat ternyata ilmuwan muslim terdahulu saja sudah berbicara banyak lebar tentang proses mental, bukan saja tentang jiwa. Pembicara ketiga, sebagai ahli filsafat. Beliau banyak berbicara tentang pemikiran psikologi Barat dan Islam.

Sesi tanya jawab: 

Saya ambil poin-poin yang menarik saja ya..
- Bagaimana kita menyikapi ink-blot test sebagai  produk psikoanalisis ?
Prof Malik Badri menjawab: Islam mengakui adanya simbol-simbol yang menyiratkan suatu hal, seperti mimpi yang ada interpretasinya, namun tidak sembarangan orang boleh melakukannya. Teringat Ibn Sirin yang menulis buku tentang tafsir mimpi. Apa yang dilakukan Freud terhadap mimpi ? Beliau mengkaitkan mimpi sebagai manifestasi dorongan seksual. Ini yang jangan diterima. Jadi, teliti lagi apa yang disampaikan. Dlm hal ini, kita boleh menggunakan mimpi sbg simbol dari kondisi psikologis seseorang, tapi hati-hati dalam menginterpretasi.

- Beliau berpesan utk berangkat dari Islam, baru melihat psikologi. Jangan sebaliknya. Seperti membangun fondasi yg kokoh (Islam) hingga mengecat rumah (psikologi). Jangan anggap Islam seperti cat karena apa jadinya kalau cat luntur ?

-Prof Mulyadhi menyampaikan lagi, bahwa paradigma Islam itu komprehensif. Psikologi Islam  menekankan pentingnya aspek nafs (jiwa), namun juga tidak menafikkan aspek lain, seperti kognisi, emosi, dan perilaku. Berbeda dengan paradigma Barat dengan alirannya masing-masing, hanya menjelaskan salah satu atau beberapa aspek manusia. 

Semoga bermanfaat :)


Sabtu, 10 Oktober 2015

Jembatan: Tugas Psikolog Muslim

Kita dengan mudah mengatakan "jangan marah", "jangan sedih", "yang sabar yaa", "ga boleh su'udzhon". Itu nilai-nilai ideal dalam Islam. Namun, dalam konseling ternyata tidak semudah mengucapkan kalimat-kalimat nasihat itu.

Tugas psikolog muslim bagaikan jembatan penghubung antara nilai-nilai ideal dan kondisi real manusia. Banyak yg harus dipertimbangkan: seberapa dekat posisi psikolog dengan Allah, begitu juga klien, sudah siapkah dia mengenali penyakit-penyakit jiwanya, seberapa besar dia ingin berubah, dsb. Itu yang jadi bahan pertimbangan bagaimana klien akan diperlakukan. Terlalu cepat memaksa klien menarik ke arah nilai ideal bisa jadi menyiksa. Membiarkannya jauh dari ujung nilai ideal, atau tidak memberikan nasihat  apapun juga bisa membuatnya bingung. Perlu menempatkan segalanya di tempat yang tepat..

Ada pendekatan-pendekatan yang sepintas mungkin terlihat tidak Islami.. Seperti humanistik yg membiarkan emosi meluap-luap dgn tujuan klien mengenali apa masalah dalam dirinya melalui emosi, psikodinamika yang berusaha melihat masalah tersembunyi namun disimpan sekian lama dan tidak disadari keberadaannya, CBT yang seperti mengagung-agungkan akal, transpersonal yang terkesan merangkul semua agama tapi memfasilitasi sisi spiritualitas manusia.

Ingat, manusia di samping punya jiwa yang merindukan Allah, juga punya kognisi, emosi, bahkan perilaku yang terobservasi. Tidak ada pendekatan yg sempurna, tapi masing-masing bisa berfungsi sebagai tangga pertama bagi klien utk menaiki jembatan asal digunakan secara tepat. Bisa tepat dengan mempertimbangkan kondisi klien, apa yang dibutuhkan, bagaimana dia bisa didekati. Kalau saja dari awal psikolog sudah terburu2 menarik klien utk pergi ke ujung jembatan tempat nilai ideal, bisa2 muncul reaksi berontak, tertekan, tdk nyaman, akhirnya enggan untuk membuka diri dan masalahnya tidak selesai.

Memang berat.. Mana ada membangun jembatan bisa selesai dalam sehari ?  Membuat blueprintnya saja saya masih bingung. Ya, berat kalau hanya mengandalkan kekuatan manusia. Semoga Allah membimbing dan menjadikan psikolog muslim bagaikan jembatan yang baik: semakin mendekat ke Allah, semakin mengenal kondisi manusia.

Jumat, 09 Oktober 2015

Kenali dan Regulasikan Emosi !

-Refleksi kuliah Observasi dan Wawancara Humanistik.

Ini adalah secuplik materi kuliah dengan dosen yang cukup “Humanistik”. Saya coba pahami melalui analogi berikut. Kita mau muntah, sedang di tempat umum. Jadi harus ke kamar mandi dulu karena muntah di tempat umum adalah hal memalukan. Begitu juga dengan mengekspresikan emosi, perlu pergi ke tempat yang kondusif dulu supaya tidak dianggap aneh-aneh oleh orang lain. Dosen saya mengatakan, kita orang Indonesia dibiasakan untuk meniadakan emosi, “Ga boleh nangis, marah, dsb”. Apak akibatnya ? Kita menjadi tidak peka dengan emosi diri sendiri, sehingga tidak bisa mendeteksinya. Yang terjadi hanyalah ada gejolak dalam diri tanpa tahu apa itu. Contohnya, ada pengalaman pahit pernah disakiti oleh bapaknya. Rasanya benci, marah, ada dendam, tapi bingung harus bagaimana karena yang menyakiti adalah orang tuanya. Dia hanya memendam perasaan itu, disimpan, ditutupi, dan berusaha dilupakan karena takut. Bapak & ibunya mungkin sering mengatakan, “Marah sama orang tua itu durhaka, itu dosa”. Khawatir juga dilabel sebagai "Anak tidak berbakti pada orang tua" oleh orang-orang lain yang tahu. Dalam pikirannya, “Aku ga boleh menampakkan marah walaupun sebenernya benci sama bapak, ya sudahlah, lupakan saja.” Namun, sebenarnya di dalam hatinya yang terdalam, dia belum memaafkan. Hanya saja itu diingkari, seakan-akan tidak merasakan apapun. Suatu saat emosi itu bisa terekspresikan, seperti meledak. Yang terjadi adalah bingung, “Kok aku seperti ini ya.. Inikah diriku ?” Ini gambaran contoh seseorang yang tidak mengenal emosi dirinya. Kenal saja tidak, apalagi meregulasinya.

Aplikasinya dalam konseling.. Aliran humanistik menekankan empati dan emosi. Klien dibiarkan untuk memuntahkan emosinya karena belum tentu orang tahu apa yang tersembunyi di dalam dirinya (masih dalam level mental, belum sampai jiwa). Mungkin benci, sedih, marah, kecewa, dsb. Terkadang orang juga merasa berat menceritakan pengalamannya, saking beratnya masalah yang dihadapi sehingga bingung mulai cerita dari mana. Ada juga orang yang bersikeras dirinya baik-baik saja, pura-pura kuat, padahal dirinya rapuh. Mau menangis, teriak keras, mengumpat, semua dibiarkan sampai klien siap untuk bercerita dengan pikiran yang lebih jernih. Harapannya, klien sadar akan emosi dirinya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya, tentu dengan bantuan psikolog. Seperti mengakui, “Oh, ternyata selama ini saya masih dendam dengan seseorang.”

Saya refleksikan lagi karena sempat berpikir, apakah pemikiran dan praktik seperti itu bisa diterima dalam perspektif Islam ? Saya kaitkan dengan materi tasawuf sejauh yang dipahami. Allah menampakkan penyakit hati tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Bagi orang yang bertaubat, ditampakkannya penyakit hati merupakan hal penting karena individu bisa menyadarinya dan berniat melakukan perbaikan diri agar penyakit tersebut hilang sedikit demi sedikit. Dalam konteks konseling dan psikoterapi, konsep humanistik mungkin bisa diterapkan bagi orang yang terlanjur larut dalam syahwat aau hawa nafsunya tapi ada potensi untuk bertaubat. Emosi klien sengaja dimuntahkan, biarkan dia mengekspresikan sesuka hati. Setelah emosi mereda dan klien bisa diajak berpikir, psikolog membantunya melakukan refleksi atas ekspresi emosi yang barusan ditampilkan. Caranya bisa dengan melabel emosi tersebut dan mengidentifikasi jenis penyakit hati apa yang sedang dideritanya. Harapannya adalah klien akhirnya mengenal emosi yang sedang dialami sekaligus penyakit hati yang mengendap sekian lama. Pilihan tetap ada pada klien: apakah ingin sembuh dari penyakit itu atau tetap menyimpannya. Jika ingin sembuh, proses konseling bisa menjadi titik awal untuk taubat.

Orang yang sehat jiwanya adalah yang dapat mengenali dan meregulasi emosinya, bukan mengingkari adanya emosi itu. Ketika sedang marah di tempat umum, dia sadar bahwa dirinya sedang marah. Kesadaran bahwa marah itu menguras energi dan berdampak buruk bagi dirinya, mendorongnya berusaha untuk meregulasinya, yaitu dengan tidak mengekspresikannya. Salah satu caranya bisa dengan istighfar. Terkesan simpel ya, ketika diuraikan secara rasional.. Namun, pada kenyataannya akan sangat sangat sulit untuk dipraktikkan, terutama bagi orang yang tidak menyadari emosinya.

Jika memang emosi baik positif atau negatif harus diingkari, untuk apa Allah menciptakan emosi senang, geli, kecewa, sedih, takut, marah, dan sebagainya ? Apa jadinya hidup tanpa emosi ? Emosi itu diregulasi, bukan diingkari.

Selamat mencoba ! :)