Jumat, 21 Desember 2012

Tujuan dan Petunjuk


Hei kawan, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri soal ini: Apa tujuan akhir dalam hidupku ? Apa yang melatar belakangi itu ? Bagaimana cara mencapai tujuan itu ? 

Kalau pandanganku, seperti ini nih. Sebagai muslim, tujuan akhirku berhubungan dengan Tuhan semesta alam, yaitu Allah. Mau mencari ridho, membuat Allah seneng, tuk beribadah pada Allah, atau lainnya yang artinya kurang lebih sama. Hal yang melatarbelakangi tentunya adalah “karena Allah.” Cara mencapai tujuan itu adalah mengikuti petunjuk Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagai wahyu Nya. Btw, itu adalah pandangan ideal, aku sendiri merasa belum berpandangan seperti itu sepenuhnya, tapi mencoba menjadi seperti itu.

Kenapa tujuan akhir berhubungan dengan Allah ? Karena Dia yang Maha kekal. Kalau tujuan akhir berupa hal-hal material atau lainnya yang bersifat sementara di dunia dan kita berhasil mencapainya, yakin deh... kebahagiaan yang manusia alami juga bersifat sementara walaupun meluap-luap. Logis kan ?

Kalau tujuannya berhubungan dengan Allah, pasti latar belakangnya juga berhubungan dengan Allah. Kita sebagai manusia mempunyai “hutang” pada Allah karena Dia menjadikan manusia makhluk sempurna sedemikian rupa. Mulai dari menjadikan manusia yang belum berwujud hingga berwujud seperti ini, memberikan segala hal termasuk rejeki dalam bentuk apapun, memberlakukan aturan yang terbaik untuk manusia, bahkan jauh sebelum itu ada sejarah yang mungkin ga banyak orang tau. Sebelum ruh manusia berada dalam janin, tiap ruh ditanyakan oleh-Nya “Bukan Aku ini Tuhanmu ?” mereka (para ruh) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami, kami bersaksi)” (Al-A’raf: 172.) Dari awalnya, tiap manusia sudah berjanji seperti itu, ga heran bayi selalu terlahir dalam keadaan suci dari dosa.

Untuk mencapai tujuan akhir, diperlukan petunjuk. Itulah Al-qur’an. Kenapa Al-qur’an ? itu adalah wahyu dari Allah yang mengetahui segalanya. Al-qur’an sejak diturunkan melalui nabi Muhammad Sallahu ‘alaihi wassalam sampai sekarang masih orginal dari Allah, bahkan berlaku hingga hari kiamat. Al-qur’an mengandung semuanya dari Allah, pedoman hidup manusia yang meliputi aturan, larangan, ilmu, petunjuk, dll. Ada banyak dan aku belum tau semuanya.

Kalau hidup ga dibimbing wahyu, akibatnya bisa fatal. Analoginya seperti ini. Mau pergi dari Jakarta ke Leiden bagi yang belum tau arahnya, perlu petunjuk ke sana. Entah peta, tanya-tanya orang, browsing di internet, apapun caranya biar sampai. Kita pati bakal butuh bimbingan, ga mungkin mengandalkan diri kita sendiri. Kalau cuma mengandalkan diri sendiri, peluang tersesat bakal lebih gedhe.

Yang perlu diperhatikan adalah petunjuk bisa bener, tapi bisa salah. Kalau peta, bisa aja ada simbol-simbol yang salah. Kalau tanya orang, bisa aja orangnya nipu atau kurang tau. Browsing di internet pun juga belum tentu menghasilkan informasi yang detail. Semua itu buatan manusia. Aku ga bisa membuat analogi sempurna karrna Al-qur’an mencakup semuanya. Kalau dikembalikan ke analogi tadi, Al-qur’an bagaikan peta yang benar, orang yang tau & jujur, sarana browsing yang paling komplit. Kembalikan pada asalnya, Allah yang Maha tahu.

Allah dah kasih kita petunjuk. Kalau kita ga mau ikut petunjuk itu, ga ngerti arah hidup manusia itu ke mana. Itu yang terjadi pada kaum sekularis. Mereka punya tujuan membangun negara yang maju, secara implisit, mereka bilang ga perlu bimbingan wahyu. Yakin maju ? Emang kriteria maju tuh apa sih ? Maju itu mau maju ke mana ? Oke lah, kalau mau bilang maju itu banyak bangunan, transportasi umum lancar, banyak orang kaya, budaya dilestarikan, anak-anak ditargetkan untuk berprestasi di bidang masing-masing, dll. Emang kriteria itu berlaku sampai 20-50 tahun kemudian ? Jaman berubah juga. Kalau hanya mengandalkan studi futuristik, itu ga cukup karena pasti ada error dalam tiap studi. Ingat, otak manusia yang luar biasa ini tetap mempunyai batas.

Beda kalau orang-orang mau mengikuti wahyu dari Allah (Al-qur’an). Tujuan hidup manusia adalah beribadah pada Rabbnya karena itulah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia (Adz-Dzariyaat: 56). Segala aturan, arahan yang mencakup segala aspek kehidupan tersedia di sana. Mungkin ada yang merasa tertekan, ga bebas, atau terlalu diatur. Negara Madinah di mana ada berbagai kaum dengan berbagai agama hidup di situ, dipimpin Rasulullah Muhammad Sallahu ‘alaihi wassalam, damai dan sejahtera. Bisa seperti itu karena negara Madinah saat itu dipimpin oleh orang yang mengambil wahyu sebagai jalan hidupnya dan menerapkannya dalam kehidupan bernegara.

Pada intinya, tujuan akhir yang dikaitkan dengan yang abadi, Allah, dilatarbelakangi karena-Nya, dan dengan cara-cara berdasarkan wahyu, insyaAllah bisa bahagia hidup di dunia dan di kehidupan setelah mati.

Ini yang aku yakini, gimana dengan keyakinanmu ?


*Sekularis. Sekuler berasal dari bahasa latin: Saeculum yang artinya sekarang/kini di dunia. Berarti, hanya memikirkan yang ada di dunia saat ini, menghilangkan simbol-simbol selain dunia, yaitu kehidupan akhirat.

Terinspirasi dari buku "Islam dan Sekularisme" karya Prof. Muhammad Naquib Al-Attas.

Minggu, 30 September 2012

Bingung

Aku hanya bingung, ketika melihat banyak pemuda pemudi saling memadu kasih secara terang-terangan dan berlebihan. Padahal ga ada yang menjamin mereka saling mencintai selamanya. Kalau dah putus, ada yang nangis, mau balik lagi, atau cari yang lain. Emang ga bisa sabar buat mencintai dalam diam untuk sementara?

Aku bingung ketika ada wanita yang dengan senang hati mengumbar auratnya, sementara banyak kasus pelecehan yang rawan bagi semua wanita.

Bingung mendengar orang berkata kotor, padahal berkata kotor itu ga menyelesaikan masalah, bahkan bisa membawa masalah. Emang kalau dah misuh, bakal puas ? Serius, kasian anak-anak dari para misuhers. Mereka bakal mencetak generasi pengumpat !

Bingung saja, ketika ada orang yang berprasangka terhadap sesuatu, tapi ternyata prasangka itu jauh dari kenyataan. Sangat-sangat jauh. Disuruh klarifikasi, males. Asumsi terus tanpa data berupa fakta yang memadai.

Bingung, ketika melihat ada orang menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang sebenernya ga perlu. Kalau bosen sama benda itu, cari lagi yang lain. Kalau ada yang baru, terobsesi untuk beli.

Bingung kali... Melihat status-status ga bermutu yang berisi kegalauan ga bermakna atau ambigu. Kalau dah pasang status galau, trus mau apa ? cari jumlah like sebanyak-banyaknya ?

Bingung, ada orang yang mempermainkan agama. Pindah agama cuma gara-gara cinta. Kalau cintanya ganti, agamanya juga ganti. Trus, agama bagi orang seperti itu berfungsi buat apa ?

Lagi-lagi bingung... Banyak orang merokok di tempat umum. Dah ganggu orang di sekitar, termasuk aku yang asmatik, ganggu diri sendiri juga. Padahal resiko penyakit dari merokok tuh ga kecil.

Bingung ketika ada mahasiswa/i yang seneng banget titip absen & bolos. Padahal uang masuk kuliah tuh mahal cuy dan banyak yang ga bisa kuliah gara-gara biaya mahal. Kalau titip absen, bisa ikut ujian. Emang bisa ya ? ga ikut belajar di kelas, bakal bisa jawab soal-soal ujian ? Atau nyontek ? Kalau nyontek, bisa lulus. He ? Ada ya, universitas yang mau meluluskan orang seperti itu ? mboh lah...

Masih ada bingung-bingung yang lain, tapi ga mungkin aku tulis satu per satu di sini.

Aku makin bingung ketika ada yang bilang, "kenapa yang begituan harus dibingungkan"
Lebih bingung lagi kalau diri kita melakukan apa yang kita bingungkan.

Aku memang seorang pembingung sekaligus pemikir. Ga berharap bingung itu hilang. Jangan sampai bingung itu hilang.

Tetaplah bersyukur, bagi kalian yang masih bisa bingung dan berusaha memecahkan kebingunan itu.
Bersyukur lagi ketika ada orang yang berbaik hati menjawab kebingungan-kebingunganku, sehingga aku paham.


Selasa, 18 September 2012

Singkat, Padat, Jelas: Pembicaraan tentang Krudung


Di suatu kuliah...
Dosen: “Setelah saya beri aba-aba ‘mulai’, kalian mulai wawancara. Ingat peran masing-masing. Jangan lupa, sudah termasuk level interaksi 1 sampai 3.”
Aku sudah ingat itu. Level 1 ketika interaksi sama orang baru, level 3 ketika interaksi sama orang yang dah deket & bisa menyentuh ranah personal, level 2 di tengah-tengahnya.
Terdengar aba-aba mulai. Aku sebagai interviewee santai saja, tinggal jawab pertanyaan di interviwer yang juga temen sekelasku.
Level 1
Interviewer: Rizka, kamu asalnya dari mana ?
Aku: Jogja
Interviewer: Jogja bagian mana ?
Aku: Sleman. (Sengaja jawab sepotong-sepotong, kan level 1)
Interviewer: Trus, kenapa masuk psikologi UI ?
Aku: (Mau ga mau, cerita agak panjang karena itu kronologi. à Level 2
Interviewer: (Sambil menatapku agak tajam) Sejak kapan kamu pakai krudung ?
Aku: (Membatin. Pertanyaan yang ga relevan sama pertanyaan sebelumnya. Agak kaget juga denger itu. Ini dah langsung level 3 namanya.) Sejak SMA. Lebih tepatnya, setelah lulus SMP.
Interviewer: Lumayan lama juga ya. Trus, kenapa kamu pakai krudung ?
Aku: (Ga boleh lama-lama kaget. Harus jawab cepet). Yaa, awalnya sih karena pengen aja. Bisa dibilang, iseng-iseng. Tapi, lama-lama aku mikir ini baik buatku & aku tau, ini kewajiban.
Interviewer: Oh gitu... Menurutmu, gimana sih cara cewek krudungan tetep bisa terus krudungan ?
Aku: Di manapun tinggal, cari temen yang bener lah. Ga masalah lingkungannya rusak, tapi kalo temen-temen deketnya orang baik-baik, insya Allah bisa konsisten krudungan.
Interviewer: Cewek yang ga krudungan menurutmu jelek ga ?
Aku: (omg, ini opini nih) Aku ga bilang gitu lho. Liat orangnya dulu lah. Aku berusaha ga ngecap orang dari luarnya sih. Bisa aja orang yang ga kerudungan perilakunya justru lebih baik daripada yang krudungan, atau sebaiknya. Orang krudungan emang baik dalam aspek nutupin auratnya, tapi ga tau perilaku lainnya gimana. Yang bagus sih, krudungan, tapi bisa jaga sikap. Ga ada orang yang sempurna. Manusia itu unik lho.. Kenapa kamu tiba-tiba tanya masalah krudung sih ?
Interviewer: Aku pernah didholimi sama orang krudungan. Dulu, aku punya cowok. Emang, aku juga pernah pelukan. Tapi, itu sekali-sekali aja kok, kalo lagi seneng banget aja. Kalo foto, tetep ga mau nempel-nempel banget.
Aku: (eh ? Jauh dari diriku. Aku ga melakukan itu. Tenang, jangan terlihat reaktif) hmm. Risih ya ?
Interviewer: Nah, ada nih, cewek, temennya cowokku. Dia krudungan, tapi kalo sama cowok tuh kayak ga bisa jaga bates. Pelukannya ngelebihin aku. Parah dah... pas aku ingetin dia, dia tuh nyolot, “gue kan masih belajar krudungan”
Aku: (Kaget... tapi tetap harus tenang) Bersyukur, kamu masih ada rasa risih kayak gitu. Tapi, mestinya cewek yang kamu ceritain itu, ga lakuin itu lah. Kasian sama orang-orang krudungan lainnya. Bakal ada stereotype yang jelek ke orang-orang krudungan kan.
Interviewer: Ya, bener.. bener..
Bu dosen memberi aba-aba bahwa waktu wawancara habis. Kami hanya diberi waktu beberapa menit, ga banyak.
Interviewer: Maaf ya, kalo tersinggung pas aku tanya tadi.
Aku: Ga kok, aku justru seneng. Bentar, gara-gara pengalaman itu, kamu ga trus trauma pake krudung kan ?
Interviewer: Ga kok. Aku jadi tau, harus bener-bener kuat aja kalau mau pake krudung.
Kami pun berpisah. Leganya diriku. Ga tau nih, mungkin ada salah kata yang keluar dari mulutku. Biarin lah, aku dah berusaha ngomong bener. Semoga Allah mengampuni..
***
Bersyukur, berada di lingkungan heterogen, bisa bergaul dengan orang di luar zona nyaman, tau cara pandang mereka.
Bersyukur, walaupun dia belum berhijab, masih memegang nilai baik sebagai wanita.
Bersyukur, bisa ngobrol dengan konten seperti itu, cara santai, dakwah unik !
Bersyukur, dapet bekal buat aku kalau sewaktu-waktu berhadapan dengan lingkungan yang lebih ekstrim, supaya bisa bertahan di negeri nun jauh di sana.
“Ibadah di lingkungan yang “rusak” lebih bernilai daripada ibadah di lingkungan yang dah baik.”
Yes !

*Kata-kata pada dialog di atas bukan verbatim

Jumat, 17 Agustus 2012

Merdeka ! (?)


"Merdeka !"

Itu kata yang sering kudengar di hari ulang tahun negeriku ini. Sama halnya di ulang tahun yang ke-67 ini. Angka 67 bukan angka yang kecil untuk umur. Indonesia sudah tua, bung! Sebagai negara yang sudah tidak muda lagi, pengalaman negeriku ini juga sudah banyak. Coba kita lihat kembali bagaimana negeri bernama Indonesia ini lahir setelah para pahlawan berjuang keras dalam membantu kelahiran Indonesia.

Berikut kata-kata yang mengawali hidup Indonesia

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Senang. bisa hidup dengan bebas dari musuh, Jepang yang saat itu hancur diserang sekutu. Parahnya, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Indonesia di usianya yang masih bayi sudah diberi berbagai cobaan. Si musuh mencoba merebut kembali hidup negara Indonesia. Kasihan ya, bukannya dapet waktu untuk main, namun justru dihadapkan dengan yang namanya pertempuran Surabaya, Ambarawa, perang Puputan, agresi militer.

Bersyukur, orang tua dari negara yang masih muda saat itu adalah para manusia tangguh. Mereka, bahkan sebelum Indonesia lahir sudah berjuang keras agar negara ini dapat hidup merdeka dari para musuh, yaitu penjajah. Orang tuanya tangguh, anaknya juga tangguh. Indonesia pada waktu itu sangat kuat walaupun usianya sangat muda. Alhamdulillah, Indonesia akhirnya bisa mempertahankan hidupnya yang merdeka dari para musuh, hingga sekarang.

Eh salah, ada yang perlu dikoreksi. Aku sebagai salah satu unsur yang sangat kecil dari negara Indonesia, yaitu individu yang bukan siapa-siapa, memikirkan yang lain. Musuh Indonesia sudah berubah wujud. Kalau dulu, musuh adalah negara rakus yang menginginkan kekayaan negeri ini. Kedholiman negara itu akhirnya membuat rakyat pribumi menderita secara terang-terangan. Perang berdarah antara rakyat pribumi dengan pihak asing yang rakus itu juga terjadi. Sekarang, tidak seperti itu, bung ! Musuh Indonesia sekarang menampakkan diri dengan wujud yang abstrak. Aku curiga Indonesia yang sudah setua ini justru tidak menyadari siapa musuh yang sebenarnya.

Aku lagi-lagi berpikir. Musuh tidak jelas siapa, tapi wujudnya adalah nilai-nilai yang merusak negeri ini. Setauku nilai-nilai jahat itu sebagian besar masuk melalui media yang bermacam-macam bentuknya. Mungkin Indonesia yang sudah sepuh ini juga tidak menyadari wujud itu. Tau-tau sudah ada virus korupsi, komersialisasi pendidikan, kriminalitas yang merebak, illegal logging, mafia hukum, dll. Penyakit lama bahkan belum hilang dari bumi Indonesia, salah satunya kemiskinan..

Jadi, Indonesia di usia ke-67 ini masih merdeka kah?

Aku tidak bisa jawab pertanyaan itu, hanya berharap suatu saat Indonesia hidup merdeka dari musuh yang sebenarnya.

Kamis, 28 Juni 2012

BangJo !


BangJO ? Apaan tuh ? 

Itu akronim dari “Bangga jadi Jomblo”, sebuah  istilah yang merepresentasikan prinsipku selama ini, sampai waktu yang ditentukan.
Aku bangga jadi seorang jomblo walaupun ga berharap bakal jomblo seumur hidup. Berbagai alasan yang didapatkan dari pengalaman, pengetahuan, bahkan perasaan. Definisi jomblo (menurutku) adalah lawan kata dari pacaran. Pacaran sendiri definisinya ga jelas. Mnurutku: keterikatan status antara laki & perempuan yang ga punya hubungan darah. Intinya, jomblo itu “sendiri”, tapi tidak merasa sendiri karena lebih bebas dalam berelasi dengan siapapun !

Kenapa aku bangga jadi Jomblo ?

Tentu, itu karena keuntungan yang didapat. Apa aja keuntungannya ?

1.      Bisa menggali potensi diri lebih dalam, tanpa ada gangguan.
2.       Kesempatan berprestasi terbuka lebar
3.       Waktu tidak terbuang sia-sia untuk pacaran
4.       Bebas berteman dengan siapapun

Kerugian jadi Jomblo
1.       kesepian
2.       merasa kurang kasih sayang

Yah.. Hari gini masih punya masalah kayak gitu ? Jangan sampai seperti itu lah. Masalah-masalah tadi itu bisa diatasi. Soal kesepian, ingatlah bahwa kita ga pernah benar-benar sendiri. Allah selalu menemani. Kalau kurang kasih sayang, ingatlah... Sumber kasih sayang ga Cuma dari 1 orang gebetan !

 Jangan khawatir kawan, kita tetap bisa jadi jomblo TeraTas (sejahtera dan berkualitas) atau jadi JoGLo (jomblo gila tapi loyal). Loyal idealnya ya sama Allah. Logikanya, kalau dah loyal sama Allah, pasti loyal sama seseorang yang dijodohkan Allah buat kita ^ ^
Ayolah, lepaskan status jomblo kita dengan cara terhormat. Kalau mau mendapatkan itu, bersabarlah hingga tunggu waktunya, kawan : )

*Sekali lagi, ini adalah opini. Ada bantahan ? Silakan diutarakan.

Terinspirasi dari “La Tahzan for Jomblo” karya Asma Nadia dkk.

Selasa, 12 Juni 2012

Wanita Sukses


Seorang wanita karier yang sukses, sebut saja namanya Pia. Di saat dia lewat, semua orang melihat. Di saat dia berbicara, semua diam mendengarkan. Dia sangat terkenal dengan prestasi, karakter baiknya, komitmen dengan karirnya di dunia parenting psychology. Dipanggil di mana-mana sebagai pembicara, sudah berpengalaman meneliti di berbagai daerah, risetnya dipublikasikan hingga mancanegara. Saking banyaknya prestasi, orang-orang sudah lelah membaca CVnya. Semua orang yang melihatnya akan memandangnya “keren.” Aku pun juga seperti orang-orang itu: kagum melihatnya.

Suatu hari, aku sebagai panitia acara “Karir sukses, rumah tangga sukses” ditugaskan untuk mengundang Bu Pia menjadi pembicara. Asumsi kami sebagai panitia adalah Bu Pia sudah menjadi orang sukses di karirnya dan keluarganya pasti bahagia. Ya sudah lah, aku percaya saja dengan asumsi itu. Pagi ini, aku berniat mengirim sms nomor Bu Pia.

Selamat pagi Bu, saya Rizka, mahasiswi UI sekaligus panitia acara ‘Karir sukses, rumah tangga sukses.’ Saya mewakili panitia mengundang ibu sebagai pembicara. Ibu ada waktu untuk saya temui ? Saya ingin menjelaskan konsep acara lebih lanjut.

Lama... Maklum, beliau sibuk. Aku tentu tak hanya menunggu hingga membeku. Banyak pekerjaan lain yang masih perlu dikerjakan. Salah satunya adalah tugas membaca buku psikologi perkembangan. Serius, itu bidang di psikologi yang paling aku sukai. Hikmah yang aku dapatkan setelah mempelajari itu adalah: rawatlah anak dengan baik-baik. Mungkin terdengar sepele ya, tapi tidak bagi orang yang berpikir panjang karena bagaimana pengalaman anak di masa kecil akan berpengaruh pada kehidupan anak di masa depannya. Kalau orang tua merawat anak dengan baik, terutama di masa kecilnya, dia akan menjadi anak yang InsyaAllah baik di masa depannya. Sebaliknya, kalau anak dirawat dengan tidak baik di masa kecilnya, wajar kalau pas sudah tumbuh besar dia menjadi anak nakal. Masa kecil adalah masa krusial orang tua atau pengasuh sangat berperan besar.

Aku kesal dengan para orang tua, terutama ibu, yang tidak memperhatikan anaknya. Berangkat kantor pagi, pulang malam. Ketika anaknya minta peluk, ibunya menolak dengan alasan anaknya bau. Ketika ibu baru menyadari perkembangan anaknya terlambat (padahal ibu itu yang terlambat menyadari), dibawalah anak itu ke psikolog anak. Psikolog anak bukan dokter yang memberi obat untuk menyembuhkan keterlambatan suatu aspek pada anak, lalu ibu memberi obat tersebut, hingga anaknya menjadi seperti anak-anak pada umumnya. Kalau fenomena itu terjadi, semakin jayalah wanita dengan karirnya dan semakin sengsaralah para anak karena kurang kasih sayang ibu. Bukan seperti itu, bukan... Orang tua harus terlibat dalam menangani masalah pada anak. Psikolog tetaplah psikolog, bukan orang tua sewaan dari orang tua yang sebenarnya. Tugasnya adalah mencari permasalahan sebenarnya, lalu memberikan treatment yang tentunya harus dengan keterlibatan orang tua. Parahnya, ada orang tua yang ogah menjalani treatment untuk menyelesaikan masalah pada anaknya. Alasan mendasar adalah: tidak punya waktu untuk anaknya.

Memang, aku bukan pengamat langsung dari peristiwa-peristiwa mengenaskan itu. Tentu saja, aku dapatkan info itu dari para dosen. Informasi berharga sebagai pengetahuan, namun mengenaskan untuk dirasakan.

Aku harus lepas dari perjalanan pikiranku. Rasa senang menggantikan rasa kesal. SMS balasan dari Bu Pia: Pagi Rizka, oke. Saya kebetulan jam 4 sore tidak ada acara. Kamu datang ke rumah saya ya.
Tanpa basa-basi, aku balas: oke
Alhamdulillah. Kesempatan emas ! Emang rejeki nih. Sore tidak ada acara di kampus. Soal belajar bisa diundur malem.
***
Tibalah hari itu, hari wawancara dengan Bu Pia. Aku sangat bersemangat ! Walau rumah beliau jauh, rasanya hanya sedekat rumah dan halamannya. Perjalanan yang sebenarnya jauh aku habiskan dengan memikirkan berbagai pertanyaan untuk beliau, tentu saja pertanyaan seputar psikologi perkembangan dan pengasuhan anak. 

Sesampaiku di rumah beliau, jantung berdebar-debar karena grogi dan takjub melihat rumahnya yang “wah.” Otomatis, aku membayangkan pasti keluarganya bahagia dengan keadaan seperti ini. Aku berjalan menuju pintu rumah dan menekan bel.
Bel hanya mengeluarkan suara “Assalamu’alaikum” sebanyak 2 kali, setelah itu pintu langsung terbuka. Bukan sosok yang kunanti, seorang gadis remaja seumuranku yang bertanya, “Mau cari siapa mbak ?”
Kontan kujawab, “Bu Pia. Beliau ada di rumah ?”

“Ada mbak. Silakan masuk. Tunggu dulu ya, Mama lagi di kamar. Biar saya panggil.”
Oow. Rupanya itu anak Bu Pia. Cantik seperti ibunya, tapi aku membaca karakter yang janggal di dia. Kalau ditanya “apa”, aku ga bisa menjawab. Yah, aku belum tau lebih jauh soal psikologi abnormal, belum berani mengidentifikasi itu adalah sebuah abnormalitas.
Selang beberapa saat sosok yang kutunggu-tunggu datang. Bu Pia yang masih rapi dengan pakaian kerja menyapaku dengan ramah.

“Halo Rizka”

“Halo Bu. Perkenalkan, saya Rizka.”

“Ya ya, saya sudah tau namamu Rizka. Kan disebutin di sms.” Ujar beliau sambil tertawa.

Ternyata, ibu ini lucu juga. Berawal dari perkenalan itu, kami mengobrol banyak hal tanpa melupakan tujuan utamaku untuk datang ke rumah beliau, yaitu meminta beliau menjadi pembicara dan memberikan penjelasan singkat tentang TOR. 

Yang paling kuingat dari obrolan kami adalah obrolan tentang keluarganya. Aku memulai obrolan itu dengan menanyakan anaknya. Kaget juga, beliau ternyata begitu terbuka dengan orang yang baru dikenal. Pada awalnya membicarakan anaknya, berakhir pada pesan beliau untukku. Sungguh, pesan itu akan terekam di otakku sampai kapanpun.

“Rizka, kalau besok kamu punya anak, jangan tiru saya ya.. Memang, saya sudah sukses begini, tapi ada rasa sesal dalam diri saya.”

“Lho, apa yang perlu disesalkan Bu?”

“Kamu lihat anak saya kan ? Dia itu ADHD*. Saya telat menyadari kalau dia ADHD, pas dia sudah lumayan besar. Kasihan liat dia. Telat terdiagnosis, intervensi terlambat, anak makin sulit mengejar ketinggalan dalam perkembangannya. Itu gara-gara saya terlalu sibuk dengan pekerjaan.” Ucap beliau dengan raut muka sedih.

Beliau melanjutkan, “Makanya, sekarang saya berusaha tetap ketemu anak saya sesibuk apapun saya dengan pekerjaan. Alhamdulillah, kami sudah deket, beda jauh dengan dulu. Saya yakin, suatu saat dia akan mengalami kemajuan dalam meraih cita-citanya walaupun dia anak berkebutuhan khusus.”

“Oh begitu ya Bu. Aamiin, semoga saja ya, anak ibu bisa sesukses orang tuanya. Hehe”

“Aamiin. Saya do’akan kamu juga supaya sukses kuliah dan ya... Kalau sudah sukses, jangan lupakan keluarga, jangan abaikan anakmu. Yakin aja, anakmu bakal lebih maju kalau kamu bisa deket sama dia.”

“Wah, makasih banyak Bu. Saya tidak akan melupakan pesan Ibu.”

Aku pun pamit, pulang dengan pengetahuan baru dan perasaan bahagia. Asumsi awalku terpatahkan. Ya, wanita yang sukses belum tentu bisa menyukseskan anaknya. Tergantung bagaimana dia memperlakukan anaknya. Mana ada sih ibu yang pengen anaknya biasa-biasa aja. Tentu saja para ibu ingin anaknya lebih maju darinya. Aku akan terus ingat dengan kata-kata ini: “Jangan abaikan anakmu.”

***

   

Selasa, 10 April 2012

Rela diserang Bertubi-tubi: Terjebak di dunia lain

Ini memang pengalaman pribadi, tapi semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membaca.

Gila... bener-bener buat stres. Gimana ga stres ? Terjebak di dunia lain yang ga diharapkan. ..

Itulah situasiku saat ini. Aku mahasiswi Psikologi, ga minat sama politik, hukum, hal-hal dadakan, perdebatan, suasana rapat yang panas. Justru komponen-komponen pemicu stres itu seakan-akan menyerangku secara bertubi-tubi. *majas hiperbola. Wajar sekarang nih, aku gampang cemas. Dikit-dikit tanya, bilang ada masalah, ngeluh, dan hal-hal merepotkan lainnya bagi atasanku.

Mau gimana lagi ? Aku sudah terlanjur mengucapkan janji setia selama setahun untuk bekerja sebagai Deputi di Departemen yang penuh dengan hal-hal dadakan & membuatku cemas. Aku sementara ini berpikir, “Sudahlah, ini hanya satu tahun kepengurusan, ga nyampe setahun lagi aku bisa melepaskan status sebagai diplomat abal-abalan. Aku tau, ini bukan duniaku. Aku tau, aku terjebak di sini. Tenang aja, ga lama lagi, aku bisa lepas dari ini.” Yang penting, tetap pegang amanah selama dipasang label deputi, atau bahkan yang lebih parah: seorang diplomat.

Diplomat ? Yap... Itu profesi keren bagi beberapa orang dalam departemenku ini. Profesi dambaan bagi mereka, tapi ga bagiku. Ga sama sekali. Aku ga bercita-cita jadi dilpomat. Ga kebayang gimana anakku nanti kalau ibunya lebih sibuk mengurusi negara ketimbang anaknya sendiri. Perkembangan anak bisa bermasalah karena ga deket sama ibunya. Ga percaya sama ibu, terlambat bicara, perkembangan aspek sosial-emosional terhambat, hal-hal fatal lainnya yang berakar dari hal sepele (ibu lebih mementingkan karir daripada anak sendiri), bisa terjadi. Aku dengan tegas menyatakan: GA MAU ITU TERJADI. Aku lebih rela kalo anakku besarnya nanti jadi diplomat kalau itu emang minat dia. Itu jauh lebih keren daripada aku sebagai seorang ibu (nantinya, aamiin) jadi diplomat sukses tapi keluarga hancur. Hmm. Itu beda kalo jodoku nanti seorang diplomat, itu ga masalah karena dia emang tugasnya cari nafkah kan..

Itu barusan adalah paparan alasan kenapa aku ga mau jadi diplomat. Memang sudah jelas bahwa aku memang ga minat sama kerjaanku di departemen ini. Lagi-lagi, kabar dadakan, rapat dadakan, apa-apa dadakan. Serba dadakan... menyebalkan. Mencemaskan.

Cemas adalah sesuatu yang ga mengenakkan. Tapi, bukan berarti yang ga mengenakkan harus dihindarkan kan ? Yup... Aku ga mau menghindari sumber-sumber kecemasan ! Ga masalah ada serangan bertubi-tubi dari atasan: tugas dadakan, disuruh ngomong pake bahasa asing dengan tamu, buat proposal malem ini jadi, segera menghubungi pembicara, segera rapat saat ini juga. Selama aku mampu, aku akan melawan kecemasan itu. Ga masalah kok kalau orang-orang sekitarku secara sadar atau ga sadar buat aku cemas. Kalau aku menghindari kecemasan, kapan aku mau maju ?

Itulah sikapku. Kecemasan emang ga bisa dihilangkan dengan instan, bisanya orang mengatasi kecemasan itu dengan strateginya. Mungkin, di awal-awal ini strategiku adalah merepotkan orang lain sebagai tempat “curhat” tentang masalah-masalah terkait. Ketika orang yang diajak ngomong itu menenangkan, aku akan lebih tenang. Itu di awal, mungkin strategiku untuk mengatasi kecemasan di akhir kepengurusan akan beda, jauh lebih baik. Semakin sering aku berinteraksi dengan kecemasan, semakin pandai aku dalam mengatasinya. Semoga, aamiin.

Terlepas dari kecemasanku dalam bekerja, aku yakin, posisiku sekarang sebagai deputi punya dampak positif buatku atau mungkin buat orang lain untuk ke depannya. Bisa saja, kemampuan negosiasi bakal berguna ketika aku harus menasihati anak yang bandel. Keren kan... ada ibu yang “mantan diplomat” bisa pake ilmunya buat mendidik anak ^ ^