Selasa, 12 Mei 2015

Bagaikan Tuan yang Bijak

Engkau bagaikan tuan yang bijaksana,
Aku ceritakan kisahku bersamamu, tuanku, sebagai rasa kagumku terhadapmu.
Pada awalnya, sebelum aku bekerja di sini, aku diberi suatu tugas besar. Ya, tugas besar yang harus kuselesaikan selama masa pengabdianku. Sebuah tugas yang bukan tugas main-main karena ini menyangkut berlangsungnya kehidupan semua elemen di tempatku bekerja.

Tiap-tiap orang mendapatkan tugas. Luar biasa adil engkau, tuanku. Kau bagikan tugasmu dengan sangat sangat teliti. Pantas saja semua tugas itu bukan tugas main-main, pemberian tugasnya pun bukan main-main. Engkau pertimbangkan baik-baik bagaimana kondisi badanku, potensi, kekuatan, kelemahan, dengan siapa saja aku hidup, bahkan sampai modal apa saja yang akan kau berikan padaku agar aku dapat bertugas dengan baik.

Engkau janjikan padaku sebuah penghargaan ketika aku bertugas dengan baik. Baik buruknya pekerjaanku tergantung pada apa yang dicatat oleh utusanmu, yang selalu mengikutiku ke manapun aku pergi.

Pemberian tugas selesai. Akupun paham dan menerima dengan sepenuh hati tugas ini.
Ketika aku turun lapangan, lika liku tugas menghampiri, tapi ada beberapa hal yang akan tercatat dalam benakku tentang luar biasanya dirimu.

Luar biasa pemurah dirimu. Engkau pelihara diriku setiap saat, selama aku berniat untuk menjalankan tugasku secara optimal. Ketika aku butuh uang meski aku malu untuk meminta, engkau memberikan uang itu di luar dugaanku. Aku pun diberi makan dan minum ketika lapar melalui orang-orang lain yang bertugas menyediakannya. Tanpa mengabaikan kesenangan sementara, engkau perbolehkan aku untuk bersenang-senang selama aku bertugas di tempat ini. Apapun yang aku butuhkan, engkau selalu memberikan yang terbaik bagiku.

Sebenarnya sudah cukup apa yang engkau berikan kepadaku, tapi seringkali aku mengeluhkan sulitnya tugas itu. Padahal, tiap orang tidak mungkin diberikan tugas di luar kemampuannya. Sering kali terlena dengan kesenangan di lapangan kerja ini. Terlalu banyak godaan di sini yang membuatku lupa akan tugasku. Padahal, ini tugas besar yang ketika diselesaikan aku dijanjikan memperoleh sebuah penghargaan.

Merasa tertampar karena kelalaianku, aku tersadar. Engkau menegurku dengan lembut agar aku kembali bertugas walaupun aku sering tak sadar akan teguran itu. Kalaupun aku sadar, aku mudah sekali lupa. Pantas saja di awal pertemuan kita, aku diperintahkan untuk selalu menyebut namamu ketika beraktivitas, “Aku namamu, aku bergerak”, agar aku selalu ingat. Parahnya, aku bahkan sering lupa untuk mengucapkan itu. Tapi, tetap saja engkau sabar. Selalu ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki diri sebelum masa tugasku habis.


Masih banyak hal lain yang tak bisa kuungkapkan dalam catatan ini. Satu hal yang aku harapkan adalah aku bisa bekerja dengan sebaik-baiknya hingga engkau puas dan agar aku bisa kembali menghadapmu dalam keadaan senang.