Jumat, 21 Desember 2012

Tujuan dan Petunjuk


Hei kawan, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri soal ini: Apa tujuan akhir dalam hidupku ? Apa yang melatar belakangi itu ? Bagaimana cara mencapai tujuan itu ? 

Kalau pandanganku, seperti ini nih. Sebagai muslim, tujuan akhirku berhubungan dengan Tuhan semesta alam, yaitu Allah. Mau mencari ridho, membuat Allah seneng, tuk beribadah pada Allah, atau lainnya yang artinya kurang lebih sama. Hal yang melatarbelakangi tentunya adalah “karena Allah.” Cara mencapai tujuan itu adalah mengikuti petunjuk Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagai wahyu Nya. Btw, itu adalah pandangan ideal, aku sendiri merasa belum berpandangan seperti itu sepenuhnya, tapi mencoba menjadi seperti itu.

Kenapa tujuan akhir berhubungan dengan Allah ? Karena Dia yang Maha kekal. Kalau tujuan akhir berupa hal-hal material atau lainnya yang bersifat sementara di dunia dan kita berhasil mencapainya, yakin deh... kebahagiaan yang manusia alami juga bersifat sementara walaupun meluap-luap. Logis kan ?

Kalau tujuannya berhubungan dengan Allah, pasti latar belakangnya juga berhubungan dengan Allah. Kita sebagai manusia mempunyai “hutang” pada Allah karena Dia menjadikan manusia makhluk sempurna sedemikian rupa. Mulai dari menjadikan manusia yang belum berwujud hingga berwujud seperti ini, memberikan segala hal termasuk rejeki dalam bentuk apapun, memberlakukan aturan yang terbaik untuk manusia, bahkan jauh sebelum itu ada sejarah yang mungkin ga banyak orang tau. Sebelum ruh manusia berada dalam janin, tiap ruh ditanyakan oleh-Nya “Bukan Aku ini Tuhanmu ?” mereka (para ruh) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami, kami bersaksi)” (Al-A’raf: 172.) Dari awalnya, tiap manusia sudah berjanji seperti itu, ga heran bayi selalu terlahir dalam keadaan suci dari dosa.

Untuk mencapai tujuan akhir, diperlukan petunjuk. Itulah Al-qur’an. Kenapa Al-qur’an ? itu adalah wahyu dari Allah yang mengetahui segalanya. Al-qur’an sejak diturunkan melalui nabi Muhammad Sallahu ‘alaihi wassalam sampai sekarang masih orginal dari Allah, bahkan berlaku hingga hari kiamat. Al-qur’an mengandung semuanya dari Allah, pedoman hidup manusia yang meliputi aturan, larangan, ilmu, petunjuk, dll. Ada banyak dan aku belum tau semuanya.

Kalau hidup ga dibimbing wahyu, akibatnya bisa fatal. Analoginya seperti ini. Mau pergi dari Jakarta ke Leiden bagi yang belum tau arahnya, perlu petunjuk ke sana. Entah peta, tanya-tanya orang, browsing di internet, apapun caranya biar sampai. Kita pati bakal butuh bimbingan, ga mungkin mengandalkan diri kita sendiri. Kalau cuma mengandalkan diri sendiri, peluang tersesat bakal lebih gedhe.

Yang perlu diperhatikan adalah petunjuk bisa bener, tapi bisa salah. Kalau peta, bisa aja ada simbol-simbol yang salah. Kalau tanya orang, bisa aja orangnya nipu atau kurang tau. Browsing di internet pun juga belum tentu menghasilkan informasi yang detail. Semua itu buatan manusia. Aku ga bisa membuat analogi sempurna karrna Al-qur’an mencakup semuanya. Kalau dikembalikan ke analogi tadi, Al-qur’an bagaikan peta yang benar, orang yang tau & jujur, sarana browsing yang paling komplit. Kembalikan pada asalnya, Allah yang Maha tahu.

Allah dah kasih kita petunjuk. Kalau kita ga mau ikut petunjuk itu, ga ngerti arah hidup manusia itu ke mana. Itu yang terjadi pada kaum sekularis. Mereka punya tujuan membangun negara yang maju, secara implisit, mereka bilang ga perlu bimbingan wahyu. Yakin maju ? Emang kriteria maju tuh apa sih ? Maju itu mau maju ke mana ? Oke lah, kalau mau bilang maju itu banyak bangunan, transportasi umum lancar, banyak orang kaya, budaya dilestarikan, anak-anak ditargetkan untuk berprestasi di bidang masing-masing, dll. Emang kriteria itu berlaku sampai 20-50 tahun kemudian ? Jaman berubah juga. Kalau hanya mengandalkan studi futuristik, itu ga cukup karena pasti ada error dalam tiap studi. Ingat, otak manusia yang luar biasa ini tetap mempunyai batas.

Beda kalau orang-orang mau mengikuti wahyu dari Allah (Al-qur’an). Tujuan hidup manusia adalah beribadah pada Rabbnya karena itulah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia (Adz-Dzariyaat: 56). Segala aturan, arahan yang mencakup segala aspek kehidupan tersedia di sana. Mungkin ada yang merasa tertekan, ga bebas, atau terlalu diatur. Negara Madinah di mana ada berbagai kaum dengan berbagai agama hidup di situ, dipimpin Rasulullah Muhammad Sallahu ‘alaihi wassalam, damai dan sejahtera. Bisa seperti itu karena negara Madinah saat itu dipimpin oleh orang yang mengambil wahyu sebagai jalan hidupnya dan menerapkannya dalam kehidupan bernegara.

Pada intinya, tujuan akhir yang dikaitkan dengan yang abadi, Allah, dilatarbelakangi karena-Nya, dan dengan cara-cara berdasarkan wahyu, insyaAllah bisa bahagia hidup di dunia dan di kehidupan setelah mati.

Ini yang aku yakini, gimana dengan keyakinanmu ?


*Sekularis. Sekuler berasal dari bahasa latin: Saeculum yang artinya sekarang/kini di dunia. Berarti, hanya memikirkan yang ada di dunia saat ini, menghilangkan simbol-simbol selain dunia, yaitu kehidupan akhirat.

Terinspirasi dari buku "Islam dan Sekularisme" karya Prof. Muhammad Naquib Al-Attas.

0 komentar: